Opini
Opini: Peter L. Berger- Gagasan yang Tak Pernah Padam
Berger mengajarkan bahwa ilmu sosial bukanlah menara gading, melainkan panggilan intelektual dan moral untuk membela kemanusiaan.
Oleh: Bernardus Badj
Penulis tinggal di Maumere, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 17 Maret, dunia sosiologi memperingati kelahiran Peter Ludwig Berger (1929–2017), seorang pemikir besar yang gagasannya melampaui batas-batas akademis dan terus relevan hingga kini.
Bagi kita di Nusa Tenggara Timur ( NTT), peringatan ini bukan sekadar nostalgia intelektual, melainkan momentum untuk menimbang kembali bagaimana kerangka berpikir Berger dapat membantu kita membaca dan mengubah realitas sosial yang kita hadapi sehari-hari.
Di tengah kemiskinan yang masih membelenggu 19,5 persen penduduk NTT (BPS Provinsi NTT, 2024), praktik patronase yang mengakar, dan ketimpangan pembangunan yang kronis, gagasan Berger menjadi undangan reflektif: mau dibawa ke mana kita merancang realitas bersama ini?
Berger dan Tiga Pilar Pemikirannya
Peter Ludwig Berger lahir di Wina, Austria, pada 17 Maret 1929. Setelah Perang Dunia II, ia beremigrasi ke Amerika Serikat dan menempuh pendidikan di Wagner College serta New School for Social Research di New York.
Baca juga: Opini: Refleksi dari Tubuh yang Melayani dan Menyaksikan
Sepanjang karier akademisnya, Berger mengajar di berbagai institusi ternama seperti Universitas North Carolina, Boston College, dan Universitas Boston hingga akhir hayatnya pada 2017.
Ia dikenal sebagai sosiolog dan teolog yang mampu menjembatani dua ranah yang kerap dianggap terpisah, dengan karya-karya monumental seperti The Social Construction of Reality (1966) bersama Thomas Luckmann, The Sacred Canopy (1967), dan Pyramids of Sacrifice (1974).
Pertama, konstruksi sosial atas realitas. Dalam karyanya bersama Luckmann, Berger menjelaskan bahwa realitas sosial dibangun melalui tiga momen dialektis: eksternalisasi (penciptaan institusi dan norma), objektivasi (ketika institusi tampak sebagai kenyataan objektif yang given), dan internalisasi (saat realitas objektif itu diserap ke dalam kesadaran individu).
Kerangka ini membongkar mitos bahwa struktur sosial bersifat alamiah atau tak terelakkan. Masyarakat adalah produk manusia, dan manusia adalah produk masyarakat sebuah dialektika yang berlangsung terus-menerus.
Dengan kata lain, manusia secara aktif menciptakan realitas sosial yang pada gilirannya membentuk diri mereka sendiri.
Kedua, pluralisme dan agama. Berger pada awalnya mendukung tesis sekularisasi yang menyatakan bahwa modernitas akan mengikis peran agama. Namun pada akhir 1980-an, ia secara terbuka mengakui kekeliruannya.
Dalam The Desecularization of the World (1999), ia menegaskan bahwa modernitas justru melahirkan pluralisme religius.
Individu hidup di tengah berbagai keyakinan, nilai, dan gaya hidup yang saling bersaing.
Agama tetap bertahan bahkan bangkit kembali sebagai sumber identitas dan solidaritas di tengah arus modernisasi.
Pluralisme ini tidak hanya fenomena religius, tetapi juga sosial-politik, karena masyarakat modern ditandai oleh keberagaman pandangan dunia yang tak terhindarkan.
| Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti |
|
|---|
| Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha |
|
|---|
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
| Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga? |
|
|---|
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Peter-L-Berger-01.jpg)