Opini
Opini: Refleksi dari Tubuh yang Melayani dan Menyaksikan
Sebagai pendeta perempuan, saya sering menjumpai pola yang sama di ruang publik. Apa yang lahir dari kasih sering dianggap tidak strategis.
Maria Dianggap Boros Tetapi Sistem yang Mengorbankan Rakyat Disebut Bijak
Oleh: Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
e-Mail: dmsodakain@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Saya tidak membaca kisah Maria dari jarak aman. Saya membacanya dari tubuh yang terbiasa merawat, menahan dan menyaksikan.
Tubuh perempuan tidak asing dengan kehilangan. Kami terbiasa memberi tanpa diumumkan. Kami terbiasa pecah tanpa disorot. Karena itu, ketika Maria memecahkan minyak narwastu, saya tidak melihat pemborosan.
Saya melihat keberanian untuk tidak lagi menyimpan apa yang paling berharga bagi diri sendiri.
Baca juga: Opini: Bansos, Demokrasi dan Ketergantungan
Namun yang mengganggu bukan tindakan Maria. Yang mengganggu adalah respons terhadapnya. Ia dianggap berlebihan. Tidak efisien. Tidak rasional.
Kritik itu tidak lahir dari kepedulian kepada orang miskin, melainkan dari cara pandang yang selalu ingin mengatur nilai berdasarkan perhitungan (Bible Gateway, n.d.).
Sebagai pendeta perempuan, saya sering menjumpai pola yang sama di ruang publik. Apa yang lahir dari kasih sering dianggap tidak strategis.
Apa yang lahir dari keberpihakan sering dianggap tidak realistis. Dan yang paling menyakitkan, suara yang lahir dari pengalaman merawat sering dianggap emosional, bukan rasional.
Padahal justru dari pengalaman merawat itulah kita belajar membedakan: mana pengorbanan yang membebaskan dan mana pengorbanan yang memeras.
Mollo Barat: Ketika Pengorbanan Tidak Lagi Dipilih
Di Kecamatan Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS), pengorbanan bukan konsep rohani. Ia adalah rutinitas. Saya tidak perlu teori untuk melihatnya.
Cukup berjalan bersama ibu ibu yang memikul air dari jarak yang tidak dekat. Cukup duduk bersama keluarga yang menunggu hujan untuk memastikan apakah mereka bisa makan atau tidak.
Data hanya menegaskan apa yang sudah lama dirasakan. Tingkat kemiskinan di NTT masih termasuk yang tertinggi secara nasional (Badan Pusat Statistik, 2024).
Di TTS, kondisi ini bukan angka di atas kertas, tetapi kenyataan yang berulang dalam kehidupan sehari hari (BPS Kabupaten Timor Tengah Selatan, 2024).
Kekeringan bukan peristiwa sesaat, tetapi pola tahunan yang menguras tenaga dan waktu manusia (Kompas, 2023; Mongabay Indonesia, 2023). Bahkan tubuh anak-anak pun menanggung akibatnya melalui tingginya prevalensi stunting (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023).
Debbie Marleni Sodakain
Mollo Barat
Kecamatan Mollo Barat
Opini Pos Kupang
Pendeta GMIT
Gereja Masehi Injili di Timor
Timor Tengah Selatan
Nusa Tenggara Timur
Meaningful
| Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti |
|
|---|
| Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha |
|
|---|
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
| Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga? |
|
|---|
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Debbie-Marleni-Sodakain.jpg)