Opini
Opini: Menumbuhkan Literasi Anak Sejak Dini dengan Dongeng
Membacakan dongeng bagi anak sebelum tidur mempunyai arti yang dalam. Hal ini bukan sekadar hiburan tetapi juga sarana pendidikan
Oleh: Danan Murdyantoro
Pustakawan di Pusat Musik Liturgi (PML), Alumnus Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Kebiasaan mendongeng di zaman sekarang jarang ditemukan, Dongen itu baik, syarat makna berkelindan untuk membekali anak tentang nilai-nilai ebagai asupan gizi keilmuan dalam kehidupan.
Mendongeng merupakan cara meneruskan warisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dongeng bertujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada anak (Gordon dan Browne dalam Bactiar 2002).
Membacakan dongeng bagi anak sebelum tidur mempunyai arti yang dalam. Hal ini bukan sekadar hiburan tetapi juga sarana pendidikan yang efektif.
Baca juga: Wisata NTT, Pesona Hutan Bonsai, Fatumnasi TTS Seperti Dunia Dongeng
Mendongeng merupakan perwujudan membangun literasi anak sejak dini, mencetak generasi tangguh dan sehat, menumbuhkan pikiran positif anak, membuat lebih percaya diri.
Melalui dongeng, anak belajar nilai-nilai moral penting seperti kejujuran, keberanian dan empati. Kebiasaan membaca dongeng perlu dibudayakan untuk menjaga agar pikiran tetap hidup.
Itulah makna terdalam sebagai refleksi dan perwujudan membumikan kembali kebiasaan dongeng bagi kehidupan keluarga saat kita memperingati Hari Dongeng Sedunia setiap tanggal 20 Maret.
Kebiasaan membaca bagi anak diibaratkan sebagai berlayar. Berlayar menjajah ilmu, anak jadi tahu tentang luasnya ilmu yang selama ini kurang dimengerti.
Orang tua dibutuhkan dalam memilih buku bagi anak yakni bacaan yang menggunakan kalimat sederhana, pendek dengan hiasan gambar-gambar berwarna sehingga menarik perhatian anak.
Hanya saja ketersediaan buku ganti dongeng belum menjadi bahan bacaan utama dalam kehidupan keluarga di Indonesia.
Mengutip data Perpusnas dan laporan terkait per- 2025/ 2026 Indeks Budaya Literasi Nasional meningkat menjadi 60,49 ( kategori sedang- tinggi) pada 2023, dengan akses digital meningkat pesat.
Namun, tantangan "darurat literasi" masih ada. Beberapa laporan menyebutkan minat baca fungsional masih rendah, meski akses buku di 20.000 lebih desa ditingkatkan oleh Perpusnas.
Itu berarti tingkat literasi masih perlu digalakkan. Literasi menjadi fondasi pembebasan manusia dari kebodohan dan manipulasi informasi yang kian marak di era digital.
Literasi menjadikan pendidikan kuat. Mestinya negara hadir, mempermudah akses masyarakat mendapatkan materi bacaan sehat dan buku berkualitas bagi anak.
Perpustakaan menjadi salah satu solusi, entah buku cerita bergambar, dongeng atau lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Danan-Murdyantoro.jpg)