Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Dusun Flobamora  dan Jalan Menemukan NTT

Dusun Flobamora sudah dan sedang melewati lorong-lorong sunyi, sambil melawat dan merawat dusun-dusun kecil Nusa Flobamora.

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI LONGGINUS ULAN
Longginus Ulan 

Sebuah Apresiasi HUT ke-15 Komunitas Sastra Dusun Flobamora

Oleh: Longginus Ulan
Peminat Sastra, Tinggal di SoE, Timor Tengah Selatan - Nusa Tenggara Timur.

“The longest journey is the journey inwards”
Perjalanan Terpanjang Manusia adalah Perjalanan ke dalam Diri 

POS-KUPANG.COM - Penggalan kutipan Dag Hammarskjöld, mantan Sekretaris Jenderal PBB (1953-1961) di atas sudah tidak asing lagi. 

Usia kalimatnya sudah tidak muda lagi. Dihitung seusia hidup manusia maka saat ini sudah tujuh puluhan tahun. 

Kendati demikian, nuansa reflektifnya masih relevan dan terus hidup. Seperti api yang terus bernyala. Tak kunjung padam, memberikan terang kepada generasi zaman yang satu ke generasi zaman yang lain.  

Baca juga: Dusun Flobamora Rayakan Ulang Tahun ke-15

Begitulah karya sastra, selalu merupakan cermin dan pantulan realitas kehidupan yang lahir dari setiap tangan penulis atau sastrawan yang selalu awet merawat karya-karya mereka. 

Sastra selalu merupakan jalan sunyi yang membingkai olah pikir, olah rasa. Ruang dialog akal dan batin. Sastra adalah ziarah sunyi, jalan kembali menyusur lorong-lorong kehidupan. 

Tanggal 19 Februari 2026 lalu, Komunitas Dusun Flombamora merayakana hari ulang tahunnya. Usia 15 tahun untuk komunitas sastra ini  adalah perjalanan panjang, menyusur dusun-dusun kecil di Bumi Flobamora. 

Sepanjang jalan itu, aneka warna menghampar, berbagai ragam dan corak menyatu. 

Berdampingan satu dengan yang lain, dalam satu Taman Sari Kehidupan Nusa Flobamora; Flores, Sumba, Alor dan Timor. 

Dusun Flobamora sudah dan sedang melewati lorong-lorong sunyi, sambil melawat dan merawat dusun-dusun kecil Nusa Flobamora.

Perjalanan yang adalah ikhtiar intelektual-akademik berbalut dalam nada sastrawi. Ikhtiar yang berkanjang akan menemukan kembali setitik api di tengah samudera luas. 

Sebermula, mungkin hanyalah setitik api, namun titik api itu bisa memicu dan menyebarkan terang cemerlang pada lorong-lorong kehidupan di Bumi Flobamora. 

Sastra: Jalan Menemukan Lokalitas NTT

Perkembangan teknologi informasi saat ini tentu harus dilihat bukan saja tantangan namun justru menjadi peluang yang membuat sastra semakin bersemarak di Nusa Tenggara Timur

Dusun Flombaro dalam kahasanah sastra di NTT diharapkan terus berlangkah seiring perubahan namun tetap teguh berdiri di atas pijakan buminya sendiri. 

Cerita Sastra NTT adalah tentang kembali mencari dan menemukan diri dalam lumbung-lumbung kehidupan kearifan lokal. 

Menelusur jejak -jejak kearifan lokal dan budaya. Menemukan relevansi dan menghidupinya dalam keselarasan hidup pada tatanan sosial.  

Hadirnya sastra dalam Bingkai Komunitas Dusun Flobamora adalah terus membingkai  kisah-kisah humanis; Tentang perjuangan, keteguhan dan kegigihan, harapan dan kecemasan dari sudut-sudut kota maupun lorong-lorong kehidupan di desa-desa yang ada di Flombara.  

Karya-karya sastra adalah tentang indahnya hidup berdampingan dengan damai, toleransi, gotong royong di tengah ancaman induvidualisme. 

Di tengah hedonisme dan kenikmatan duniawi sajian-sajian sastra adalah tentang  kesadaran akan keserderhaan yang terpantul dari jejelan produk-produk lokal seperti jagung titi yang lezat, buah kenari yang gurih, ubi, marungga dan sambal lu’at yang nikmat. 

Sastra di NTT adalah tentang nukilan kisah anak-anak sekolah di pedalaman yang berjalan berpuluh kilometer, bertaruh nyawa melewati banjir karena sekolah yang masih jarang ditemui. 

Kegigihan seorang petani, nelayan, pemulung  untuk menyekolahkan anak hingga meraih gelar sarjana. Kisah-kisah ini bagaikan mutiara-mutiara kehidupan yang tercecer. 

Di sinilah tugas sastra menemukan kembali habitat dan menjadikannya karya sastra yang berkilau bagi sesama. 

Nusa Tenggara Timur dan deretan pulau-pulaunya, penuh dengan hamparaan keindahan dan keunikan bukan saja alam namun  terpancar dari semarak budaya dan tradisi. 

Semoga dengan ulang tahun ke-15 Komuntas Dusun Flobamora tanggal 19 Februari lalu, menjadi ajang dan tonggak untuk terus mencari, menemukan dan menyajikan kisah-kisah dari NTT dalam karya-karya sastra yang bermakna

Perjalanan 15 Tahun Komunitas Sastra Dusun Flomabora, boleh dibilang, berumur panjang bukan lagi seumur jagung. Bukankah demikian? Kita bisa menyaksikan sendiri saat ini. 

Di tengah gempuran modernisasi dengan berbagai plus-minusnya, komunitas ini masih tetap bertahan dan eksis. 

Di tengah ekses negatif disrupsi, dimana dari anak kecil sampai kakek nenek lebih doyan scrool HP. 

Zaman dimana tontonan yang hanya mengejar viral namun nirmakna  serasa lebih meriah pada ponsel di tangan. Buku dan literasi sastra menjadi sesuatu yang cenderung asing dalam genggaman peradaban modern ini. 

Disinilah letak umur panjangnya perjalanan Komunitas Dusun Flobamora yang terus berdaya Upaya, bertahan, beradaptasi dan melakukan transformasi-transformasi konten kegiatan baik langsung maupun secara digital dengan berbagai platform media sosialnya. 

Komunitas Dusun Flobamora terus bermetamorfosis sering perubahan itu. Dari kongkow-kongkow sastra dibingkai dalam Jurnal Santarang. 

Dari kumpul-kumpul omong sastra, dunia bisa menyaksikan lewat youtube, instagram, facebook dan lainnya. 

Komunitas Dusun Flobamora terus mengalir. Dan, memang semunya mengalir, seperti sungai. Maka genaplah kata Heraklitus, Filsuf Yunani, Abad ke-6 

Sebelum Masehi itu;  Panta Rei atau Semuanya Mengalir.  Komunitas Dusun Flobamora pun terus mengalir dengan kisah-kisahnya dalam waktu yang terus bergeser. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved