Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Prapaskah, Kemanusiaan dan Ekologi Integral

Namun luka dan krisis itu kemudian dipulihkan dengan puasa - yang merupakan pilar kedua prapaskah.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YANTHO BAMBANG
Yantho Bambang 

Oleh: Yantho Bambang
Biarawan Rogationist, tinggal di Manila, Filipina.

POS-KUPANG.COM - Kita sedang berada di pertengahan masa prapaskah, masa yang seringkali dihayati sebagai masa tobat: urusan batin (personal) antara pendosa dan sang Pencipta. 

Namun di hadapan realitas dunia yang terluka: bumi yang kian merintih karena eksploitasi (pertambangan, deforestasi, uji coba bom nuklir) dan martabat manusia yang terkoyak oleh ketidakadilan, penindasan, human trafficking, dan perang, prapaskah menuntut makna yang lebih luas: dari sekadar urusan kesalehan personal, ke pemulihan integral (sosial - kemanusiaan dan ekologi). Itulah makna prapaskah yang sejati. 

Lantas bagaimana spirit prapaskah memulihkan luka dunia? Jawabannya terletak pada pilar-pilar prapaskah itu sendiri, yakni doa, puasa, dan derma

Doa: Mengembalikan Kesucian pada Setiap Ciptaan

Perang, ketidakadilan, penindasan, human trafficking, krisis ekologi dan segala macam bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan dan ekologi sejatinya berakar pada apa yang disebut sekularisme radikal atau penyangkalan total akan “kehadiran” (presence) yang Ilahi dalam dunia atau alam ciptaan. 

Karena kehadiran yang Ilahi disangkal maka segala sesuatu dijustifikasi demi keuntungan personal. 

Baca juga: Opini: Nyepi, Stoikisme, dan Jalan Kebajikan 

Alam misalnya dipandang sebagai objek atau komoditas semata-mata sehingga eksploitasi massif dibenarkan. 

Demikianpun manusia. Karena subjek lain dipandang dan dianggap saingan, musuh, mainan, dan bahkan komoditas maka mereka bisa diserang, ditekan, dijual, dieliminasi, dan bahkan dibunuh kapan saja.

Kondisi itu kemudian membidani lahirnya luka dan krisis. Dan untungnya, di tengah krisis itu, doa - yang menjadi pilar pertama masa prapaskah - memainkan perannya yang penting.  

Namun, doa dalam konteks ini, lebih dari sekadar berkomunikasi dengan Tuhan. 

Ia lebih merupakan jembatan untuk memulihkan kembali relasi segitiga yang retak antara Tuhan - sesama - dan alam ciptaan.   

Dengan berdoa, manusia tidak hanya mengakui adanya Wujud Tertinggi tetapi juga menyadari kehadiran-Nya dalam segala ciptaan. 

Dengan menyadari kehadiran-Nya, maka pandangan dan paradigma kita terhadap yang lain dan seluruh ciptaan akan berubah. 

Alam tidak lagi dipandang sebagai objek atau komoditas semata-mata tetapi sebagai sakramen: manifestasi kehadiran yang Ilahi. 

Demikianpun subjek yang lain. Mereka tidak lagi dianggap sebagai saingan, musuh, mainan, dan komoditas yang bisa diserang (seperti yang dialami oleh negara-negara di Timur Tengah), ditekan, dijual (seperti yang diami oleh saudari-saudari yang menjadi korban perdagangan orang), dieliminasi dan bahkan dibunuh. 

Sebaliknya, yang lain adalah Allah yang terlihat. Karena itu, sikap yang pantas dan benar terhadap mereka adalah kasih dan persaudaraan. Inilah relevansi doa pada masa tobat ini. Ia melampaui kepentingan personal. 

Puasa: Membatasi Keserakahan yang Merusak

Krisis ekologi dan kemanusiaan yang mengemuka hari-hari ini juga sebenarnya berakar pada keserakahan tanpa batas. 

Pengejaran pertumbuhan ekonomi yang tak henti-hentinya telah melampaui batas daya dukung bumi, sehingga mengakibatkan kerusakan habitat yang massif dan perubahan iklim yang ekstrem. 

Pada saat yang sama, ketimpangan sosial semakin lebar karena sumber daya yang seharusnya menjadi milik bersama justru dikuasai oleh segelintir pihak, meninggalkan kelompok rentan dalam kemiskinan dan ketidakpastian hidup. Dan karena itulah, timbul luka dan krisis. 

Namun luka dan krisis itu kemudian dipulihkan dengan puasa - yang merupakan pilar kedua prapaskah.  

Kalau doa mengubah cara pandang kita terhadap dunia, maka puasa merubah cara kita hidup atau berada. 

Namun puasa, dalam konteks ini, lebih dari sekadar menahan diri untuk tidak makan. 

Sebaliknya puasa lebih berarti berhenti menjadi predator bagi sesama dan alam ciptaan. 

Ini mutlak, karena bagaimanapun, keluhuran martabat manusia dan keutuhan ciptaan selalu menjadi prioritas utama bukan hanya dalam konteks hidup beriman tetapi juga dalam konteks kehidupan yang lebih luas. 

Derma: Mendistribusikan Keadilan 

Setali tiga uang dengan hal-hal yang telah disinggung pada bagian awal, bahwa krisis kemanusiaan dan ekologi yang mencuat hari-hari ini juga sebenarnya disebabkan oleh akumulasi kekayaan yang tidak merata.  

Ketimpangan ini telah menciptakan jurang yang lebar di mana segelintir pihak menguasai sumber daya secara berlebihan, sementara mayoritas populasi dipaksa bertahan hidup di tengah sisi-sisa ekosistem yang kian rapuh. 

Kondisi inilah yang kemudian menciptakan luka sosial dan ekologi. Namun di tengah kondisi itu, derma - yang menjadi pilar ketiga prapaskah, memainkan perannya yang signifikan. 

Akan tetapi derma yang dimaksudkan di sini lebih dari sekadar memberi - apalagi sesuatu yang diberikan itu adalah “recehan” atau “sisa” dari sesuatu yang mungkin tidak layak untuk diberi atau juga mungkin sesuatu yang sebenarnya dimiliki oleh orang lain tetapi hanya karena dibungkus dengan slogan “bonus.”

Karena itu, derma yang dimaksud lebih berarti: pertama, mendistribusikan sumber-sumber daya secara merata. 

Ini berarti akses terhadap sumber daya seperti tanah, air, modal, pendidikan dan kesehatan tidak menumpuk di kelompok-kelompok tertentu. Neracanya harus seimbang. 

Kedua, berhenti merampas hak-hak orang lain, khususnya kaum miskin, buruh, dan masyarakat adat: contoh tindakan, korupsi; pemberian upah yang rendah; dan penyerobotan ruang hidup Masyarakat atas nama pembangunan.

Ketiga, mengembalikan atau memulihkan sesuatu yang telah rusak. Dalam konteks kemanusiaan, wujudnya bisa seperti: memulihkan martabat korban human traficcking, korban perang, korban ketidakadilan, dan korban penindasan. 

Demikianpun dalam konteks ekologis, wujudnya bisa seperti: reboisasi, manajemen sampah, konservasi air dan tanah. 

Inilah relevansi pilar-pilar prapaskah terhadap kehidupan sosial - kemanusiaan dan ekologi.

Namun sekali lagi relevansi itu hanya mungkin jika masa prapaskah tidak hanya dijadikan sebagai momen penyucian diri tetapi juga sebagai titik pijak dalam upaya merestorasi atau memulihkan wajah dunia (kemanusiaan dan ekologi) yang terluka melalui tindakan-tindakan sederhana namun radikal dan menyentuh akar persoalan. (*)

Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved