Opini
Opini - Menjaga Integritas Seleksi KPID NTT
Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas penyiaran di daerah.
Transparansi inilah yang sering kali menjadi titik lemah dalam berbagai proses seleksi lembaga publik.
Pentingnya Proses yang Konsisten
Tahap awal seleksi biasanya dimulai dari verifikasi administratif oleh tim seleksi. Pada tahap ini seluruh dokumen, rekam jejak, serta kelengkapan syarat calon diperiksa secara ketat.
Tahapan tersebut seharusnya menjadi filter awal untuk memastikan bahwa hanya kandidat yang memenuhi syarat dasar yang dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.
Jika verifikasi administratif dilakukan secara longgar atau tidak konsisten, maka seluruh tahapan seleksi berikutnya akan kehilangan legitimasi. Publik dapat dengan mudah mempertanyakan apakah proses seleksi benar-benar berbasis merit atau justru dipengaruhi oleh faktor lain.
Hal yang sama berlaku dalam uji kelayakan dan kepatutan yang dilakukan oleh DPRD. Proses ini idealnya menilai secara komprehensif visi kandidat, kapasitas kepemimpinan, pemahaman terhadap regulasi penyiaran, serta komitmen menjaga independensi lembaga.
Di sinilah kualitas seleksi sebenarnya diuji. KPID bukan lembaga teknis biasa; ia berhadapan langsung dengan isu kebebasan pers, kepentingan publik, dan dinamika industri media. Tanpa komisioner yang memiliki kapasitas memadai, lembaga ini akan sulit menjalankan mandatnya secara efektif.
Prinsip Kesetaraan Kandidat
Salah satu prinsip penting dalam rekrutmen lembaga publik adalah kesetaraan perlakuan bagi seluruh peserta. Semua kandidat, baik pendatang baru maupun petahana, seharusnya melalui mekanisme seleksi yang sama.
Petahana memang memiliki pengalaman kerja di lembaga tersebut, tetapi pengalaman tidak boleh menggantikan proses evaluasi. Justru dalam sistem yang sehat, kinerja petahana harus diuji secara lebih ketat agar publik dapat menilai apakah mereka layak melanjutkan masa jabatan.
Prinsip ini penting untuk menjaga kompetisi yang sehat dan mencegah terjadinya reproduksi kekuasaan dalam lembaga independen.
Lembaga pengawas seperti KPID membutuhkan pembaruan gagasan dan perspektif baru agar mampu merespons perubahan cepat dalam lanskap media dan teknologi komunikasi.
Transparansi sebagai Kunci
Proses seleksi pejabat publik pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang terpilih, tetapi juga tentang bagaimana mereka dipilih. Kepercayaan publik lahir dari proses yang terbuka, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks KPID NTT, kontroversi yang muncul seharusnya menjadi momentum refleksi bagi semua pihak—tim seleksi, DPRD, pemerintah daerah, maupun masyarakat sipil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Florentinus-Bethan-ok.jpg)