Senin, 8 Juni 2026

Opini

Opini: Outlook dan Tren Pertumbuhan Ekonomi Global 2026

Secara umum, negara maju menghadapi tantangan produktivitas, tekanan fiskal, dan kebijakan moneter yang ketat.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI RICKY EKAPUTRA FOEH
Ricky Ekaputra Foeh 

Eropa: Pemulihan Lambat dan Terfragmentasi

Kawasan Eropa diperkirakan hanya tumbuh sekitar 1,0–1,5 persen pada 2026. Pertumbuhan ini relatif rendah karena beberapa faktor struktural.

Pertama, konsumsi domestik masih lemah akibat daya beli yang tertekan inflasi dalam beberapa tahun terakhir. Kedua, harga energi yang sempat melonjak akibat konflik geopolitik memberi dampak jangka panjang pada biaya produksi industri. 

Ketiga, kebijakan moneter yang ketat untuk mengendalikan inflasi turut menahan ekspansi kredit.

Selain itu, pertumbuhan di Eropa tidak merata. Negara-negara dengan basis industri kuat seperti Jerman menghadapi tekanan dari melemahnya permintaan global, sementara negara-negara Eropa Selatan lebih bergantung pada sektor jasa dan pariwisata.

India: Pertumbuhan Tinggi Berbasis Permintaan Domestik

India menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan global dengan proyeksi 6,0–6,5 persen pada 2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh beberapa faktor utama.

Pertama, demografi yang menguntungkan. Populasi usia produktif yang besar mendorong konsumsi dan tenaga kerja yang kompetitif. Kedua, ekspansi infrastruktur dan digitalisasi layanan publik meningkatkan produktivitas. 

Ketiga, strategi diversifikasi rantai pasok global membuat India menjadi tujuan investasi manufaktur alternatif.

Kombinasi konsumsi domestik yang kuat dan investasi publik menjadikan pertumbuhan India relatif lebih tahan terhadap gejolak eksternal dibanding negara yang sangat bergantung pada ekspor.

China: Moderat dengan Tantangan Struktural

China diproyeksikan tumbuh sekitar 4,0–4,5 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan dua dekade sebelumnya yang sering berada di atas 7 persen.

Tantangan utama China terletak pada sektor properti yang masih dalam fase penyesuaian, tingginya utang pemerintah daerah, serta perlambatan permintaan eksternal. 

Namun, pemerintah terus mendorong transformasi ekonomi ke arah teknologi tinggi, kendaraan listrik, dan industri berbasis inovasi.

Kinerja ekspor China juga sangat dipengaruhi dinamika hubungan dagang global. Setiap perlambatan di pasar utama seperti Amerika Serikat atau Eropa akan berdampak langsung pada pertumbuhan domestik.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved