Opini
Opini: Ramadan di Sikka- Pelajaran Toleransi, Demokrasi, dan Kehidupan
Nurcholish Madjid menegaskan bahwa toleransi muncul bukan dari formalitas hukum, tetapi dari interaksi sosial nyata
Oleh: Harun Al Rasyid
Anggota KPU Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Sore di Maumere selalu memiliki aroma yang berbeda ketika bulan Ramadan tiba.
Matahari merunduk rendah di ufuk barat, sementara langit di atas kampung Beru memerah hangat, seakan menandai waktu berbuka.
Jalanan dipenuhi oleh suara riuh penjual takjil, bunyi sepeda motor, serta tawa anak-anak yang berlarian sambil membawa kantong plastik berisi kolak atau gorengan.
Pasar takjil bukan sekadar tempat membeli makanan; ia menjadi ruang publik yang mengajarkan nilai-nilai sosial, toleransi, dan demokrasi setiap hari.
Mayoritas penduduk kampung Beru beragama Islam, tetapi menarik bahwa banyak non-Muslim turut hadir membeli takjil. Seorang pria Kristen tampak menawar kue cucur dari seorang ibu berjilbab.
Baca juga: Opini: Membaca Prapaskah sebagai Peristiwa Eksistensial
Senyum mereka beradu, suara mereka saling menyapa, dan interaksi sederhana ini menunjukkan bahwa demokrasi dan toleransi bukan sekadar teori atau slogan, melainkan praktik hidup yang lahir dari kesadaran moral dan empati.
Nurcholish Madjid menegaskan bahwa toleransi muncul bukan dari formalitas hukum, tetapi dari interaksi sosial nyata ketika manusia menghargai perbedaan dengan hormat.
Kampung Beru menjadi cerminan prinsip tersebut, terlihat dalam tawa, tawar-menawar, dan kebersamaan para pembeli dan penjual.
Puasa Ramadan, selain disiplin fisik menahan lapar dan dahaga, mengajarkan kesadaran kolektif.
Ali Syari’ati menekankan bahwa ibadah sejati membangun kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap sesama manusia.
Nilai ini muncul ketika seorang penjual kecil menawarkan kolak dengan harga lebih murah kepada keluarga kurang mampu yang datang. Kesadaran moral ini lahir dari nilai puasa, tanpa paksaan atau pengumuman resmi.
Anak-anak belajar menunggu giliran, menghargai antrean, dan memahami bahwa kepentingan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi—sebuah pelajaran demokrasi mikro yang sederhana namun mendasar.
Universitas Muhammadiyah Maumere menawarkan dimensi lain dari demokrasi. Mahasiswa dan dosen dari berbagai agama duduk berdampingan, berdiskusi, serta bertukar gagasan tanpa rasa takut.
Topik diskusi bisa beralih dari ekonomi syariah, etika lingkungan, hingga filsafat politik, sementara semua suara dihargai.
Harun Al Rasyid
Kampung Beru
Berkah Bulan Ramadan
puasa bulan ramadan
Bulan Ramadan
Opini Pos Kupang
Kabupaten Sikka
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Berpendapat dalam Keprihatinan |
|
|---|
| Opini: Peta Jalan Menuju Malaka Bersih dari Korupsi |
|
|---|
| Opini: Bahasa Biologi- Puisi Kehidupan dari Molekul hingga Makhluk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Harun-Al-Rasyid-MPd.jpg)