Minggu, 10 Mei 2026

Opini

Opini: Diktatur Sebuah Angka- Antara Sistem, Pendidikan, dan Dunia Komunikasi Modern

Beberapa dekade lalu, Paulo Freire, pemikir pendidikan asal Brasil, mengkritik pendidikan “gaya bank” dalam Pedagogía del oprimido. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PASKALIS SEMAUN
Paskalis Semaun 

Oleh: Paskalis Semaun, SVD
Misionaris SVD, bekerja di Paraguay, Amerika Latin.

POS-KUPANG.COM - Dunia pendidikan dan digital menghadirkan paradoks yang hampir tidak kita sadari. 

Di satu sisi, kita hidup di zaman yang tampak semakin terbuka dan demokratis; di sisi lain, kehidupan kita tidak pernah sedemikian terukur, terdigitalisasi, dan terkuantifikasi seperti sekarang. 

Nilai akademik, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), indikator kinerja, jumlah pengikut, angka tayangan, dan statistik produktivitas telah menjadi bahasa bersama, penanda legitimasi sosial yang sunyi namun kuat. 

Segalanya diterjemahkan menjadi angka, dibandingkan, dan diklasifikasikan. Masalah ini bukan sekadar persoalan pendidikan atau dunia kerja. 

Baca juga: Opini: Menjaga Marwah Paripurna DPRD Nusa Tenggara Timur

Ini adalah persoalan budaya—budaya yang menempatkan angka sebagai simbol legitimasi, identitas, dan kesuksesan. 

Beberapa dekade lalu, Paulo Freire, pemikir pendidikan asal Brasil, mengkritik pendidikan “gaya bank” dalam Pedagogía del oprimido. 

Dalam model ini, siswa diperlakukan sebagai wadah kosong tempat pengetahuan ditumpuk. Pengetahuan tidak dibangun melalui dialog kritis, melainkan ditimbun dan diukur. Yang mengkhawatirkan, logika ini tidak hilang—ia justru meluas.

Hari ini, media sosial berfungsi seperti ruang kelas tanpa dinding. TikTok, Instagram, dan YouTube tidak hanya menyebarkan hiburan, tetapi juga potongan informasi yang dikemas untuk konsumsi cepat. 

Algoritma memilih, pengguna menggulir, konten berganti dalam hitungan detik. Tidak ada dialog mendalam, tidak ada problematisasi, hanya dampak instan, reaksi cepat, dan metrik digital. 

Tombol “like” berfungsi sebagai nilai mini; viralitas menggantikan refleksi, dan kedalaman kalah oleh kecepatan.

Fenomena ini tidak berhenti di layar. Dunia kerja mereproduksi struktur serupa: IPK, indikator performa, KPI, dan sistem peringkat mereduksi kompleksitas manusia menjadi angka yang bisa dibandingkan. 

Dari perspektif perusahaan, hal ini masuk akal—angka mempermudah pengambilan keputusan dan mengurangi ketidakpastian. 

Namun hal-hal yang sulit diukur—kreativitas sejati, integritas moral, kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial—sering tersisih.

Yang lebih mengkhawatirkan bukanlah bahwa sistem mengukur kita, tetapi bahwa kita telah belajar mengukur diri sendiri. Kita terus mengevaluasi: apakah kita cukup produktif, cukup berhasil, cukup berkembang. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved