Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Ketika Ilmu Kimia Bertemu Demokrasi 

Transparansi, konsistensi aturan, dan akuntabilitas penyelenggara berfungsi seperti katalis yang menurunkan hambatan psikologis masyarakat

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HARUN AL RASYID
Harun Al Rasyid, M.Pd 

Refleksi dari Laboratorium hingga Pemilu

Oleh: Harun Al Rasyid, M.Pd
Anggota KPU Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Saya tidak pernah membayangkan bahwa pelajaran tentang laju reaksi, katalis, dan kesetimbangan kimia yang saya pelajari di bangku kuliah suatu hari akan membantu saya memahami demokrasi. 

Namun, hidup sering bergerak di luar rencana. Dari ruang laboratorium di Universitas Nusa Cendana Kupang hingga ruang penyelenggaraan pemilu di Kabupaten Sikka, saya justru menemukan satu benang merah: demokrasi, seperti ilmu kimia, hanya akan menghasilkan sesuatu yang sahih bila dijalankan dengan patuh pada proses.

Di laboratorium, saya belajar bahwa ilmu bukan soal kepintaran semata, tetapi kepatuhan pada proses. Tidak ada jalan pintas. 

Baca juga: Opini: Pariwisata NTT dan Ilusi Keramaian

Setiap tahap harus dijalankan secara runtut. Demokrasi, belakangan saya sadari, bekerja dengan logika yang sama.

Banyak orang bertanya, apa hubungan antara ilmu kimia dan demokrasi? Keduanya sering ditempatkan di dua dunia yang berbeda. 

Kimia berada di ruang laboratorium dengan gelas ukur dan reaktor, sementara demokrasi hidup di ruang publik yang penuh debat, konflik kepentingan, dan emosi massa. Namun perjalanan hidup saya justru membuktikan sebaliknya. 

Kimia dan demokrasi tidak hanya saling terkait, tetapi memiliki cara kerja yang serupa, sama-sama membutuhkan ketelitian, keseimbangan, dan integritas proses.

Saya menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Kimia di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. 

Di kampus inilah saya belajar bahwa ilmu kimia bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan cara berpikir sistematis. 

Cara berpikir ini kemudian saya bawa ketika mengabdi di Bawaslu Kabupaten Sikka, dan kini sebagai anggota KPU Kabupaten Sikka.

Kinetika Reaksi dan Pelajaran tentang Proses

Judul skripsi saya waktu itu adalah “Kinetika Reaksi Transesterifikasi Minyak Biji Ketapang (Terminalia catappa L) pada Proses Produksi Metil Ester.” 

Dalam kajian kinetika reaksi, yang saya pelajari bukan hanya hasil akhir berupa metil ester, tetapi laju reaksi, energi aktivasi, pengaruh katalis, dan kondisi optimum yang menentukan apakah reaksi berjalan efektif atau justru gagal.

Sebagaimana dijelaskan oleh H. Scott Fogler dalam Elements of Chemical Reaction Engineering (2006), kinetika reaksi menekankan bahwa hasil yang baik hanya mungkin dicapai bila seluruh variabel dikendalikan secara cermat. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved