Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Jeritan Nurani dan Panggilan Solidaritas Sosial

Data kemiskinan di Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa persoalan kerentanan sosial bukanlah hal baru. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOHANES GOA
Yohanes Goa 

Oleh: Fr. Yohanes Goa
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Baru-baru ini, publik Nusa Tenggara Timur ( NTT) dikejutkan oleh kasus tragis bunuh diri seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada

Peristiwa ini dikaitkan dengan kondisi keluarga korban yang tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial, meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi. 

Tragedi tersebut tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka kembali pertanyaan serius tentang keadilan distribusi bantuan sosial dan kehadiran negara bagi warga yang paling rentan. 

Dalam kematian seorang anak yang nyaris luput dari perhatian sistem, tersingkap kegagalan yang tidak semata bersifat individual, melainkan struktural dan sosial.

Baca juga: Opini: Ketika Guru Lama dan Guru Baru Berbicara Bahasa Berbeda

Data kemiskinan di Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa persoalan kerentanan sosial bukanlah hal baru. 

Persentase penduduk miskin di provinsi ini secara konsisten berada di atas rata-rata nasional, sementara banyak keluarga hidup di wilayah terpencil dengan akses terbatas terhadap layanan dasar. 

Program bantuan sosial sejatinya dirancang untuk menjangkau kelompok paling rentan, namun persoalan data, birokrasi, dan lemahnya pendampingan di lapangan sering kali membuat mereka yang paling membutuhkan justru terlewatkan. 

Kasus di Ngada menjadi potret nyata bagaimana kebijakan yang tidak menyentuh realitas konkret dapat berujung pada tragedi kemanusiaan.

Dalam terang ajaran sosial Gereja Katolik, situasi ini menyentuh inti panggilan iman.

Konsili Vatikan II melalui Gaudium et Spes menegaskan bahwa “duka dan kecemasan manusia zaman ini, terutama kaum miskin dan mereka yang menderita, adalah duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” 

Jeritan keluarga miskin yang tidak terjangkau bantuan bukan sekadar
persoalan administrasi, melainkan panggilan moral bagi seluruh masyarakat, termasuk negara, untuk menghadirkan keadilan yang nyata dan berpihak pada martabat manusia.

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengingatkan bahwa sistem sosial dan
ekonomi yang menyingkirkan kaum lemah pada akhirnya melahirkan kekerasan yang sunyi.

Ketika orang kecil merasa tidak dilihat, tidak didengar, dan tidak dihitung dalam kebijakan publik, mereka hidup dalam perasaan ditinggalkan. 

Tragedi di Ngada menunjukkan betapa berbahayanya situasi ketika kemiskinan bertemu dengan ketidakpedulian struktural. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved