Opini
Opini: Menghadapi Cuaca Ekstrem Dengan Filsafat Stoa
Berpikir positif di tengah situasi cuaca yang ekstrem ini, tentunya cukup sulit dilakukan, tetapi bukan berarti tidak mungkin.
Oleh: Afrianus Juang *
POS-KUPANG.COM - Akhir-akhir ini, kita mengalami kondisi cuaca yang tidak menentu, hujan angin yang tiba-tiba datang membuat kita tidak bisa melakukan apa-apa.
Bencana terjadi di mana-mana, mulai dari banjir, longsor, dan lain sebagainya.
Ada banyak korban yang kita alami, mulai dari materi hingga nyawa manusia yang hilang akibat bencana alam tersebut.
Pekerjaan kita pun seolah berhenti, petani tidak bisa berkebun, pekerja kantoran mengalami kesulitan menuju tempat kerja, tidak berhenti di situ saja, anak sekolah pun mengalami kesulitan karena cuaca yang ekstrem, kegiatan belajar dan mengajar menjadi terganggu.
Ada sebagian orang yang mengeluh, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Kacaukan Pasokan BBM, Bupati Rote Ndao Temui Pertamina
Bukan tanpa alasan, keluhan-keluhan itu muncul karena ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan dengan kondisi cuaca yang ekstrem ini.
Lalu pertanyaannya, apakah keluhan-keluhan kita dapat membuat cuaca menjadi lebih baik dan mengembalikan kerugian yang kita alami? Jawabannya tentu tidak.
Pada tulisan ini, saya akan menguraikan beberapa hal yang perlu kita lakukan dalam menghadapi situasi yang pelik ini, serta menghindarkan kita dari rasa stres yang dapat merusak diri kita.
Kita bisa belajar dari filsafat Stoa, untuk menghadapi kondisi alam yang sangat pelik ini. Filsafat Stoa (Stoikisme) pertama kali dicetuskan oleh Zeno dari Citium.
Filsafat Stoa adalah aliran filsafat Yunani-Romawi kuno, yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati (eudaimonia) dicapai dengan melakukan beberapa hal berikut: hidup selaras dengan alam, menggunakan akal budi, dan mengendalikan emosi negatif.
Ada tiga hal yang dapat kita terapkan dari Stoikisme dalam menghadapi cuaca yang ekstrem ini.
Berpikir positif
Berpikir positif di tengah situasi cuaca yang ekstrem ini, tentunya cukup sulit dilakukan, tetapi bukan berarti tidak mungkin.
Dalam buku The Secret, tulisan Rhonda Byrne, sekadar berpikir positif saja dapat membawa perubahan yang kita mau dalam hidup kita.
Dalam situasi cuaca yang ekstrem yang sedang kita alami sekarang, berpikir positif memang tidak membuat cuaca lebih baik atau mengembalikan kerugian yang kita alami kembali, tetapi berpikir positif membantu kita tetap tenang dan bisa menghadapi situasi yang cukup sulit ini.
Afrianus Juang
Mahasiswa IFTK Ledalero
cuaca ekstrem
waspada cuaca ekstrem
Opini Pos Kupang
filsafat Stoa
perubahan iklim global
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Biokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Afrianus-Juang.jpg)