Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Kleine Soenda Eilanden

Masyarakat NTT tentunya perlu menyambut dan bersiap diri untuk terlibat di dalam kerja sama Sunda Kecil untuk mendatangkan manfaat yang besar. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/AGUS TANGGUR
Anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai Demokrasi Indonesia, Eman Kolfidus. 

NTB hadir dengan kinerja pariwisata berupa pertumbuhan pesat didorong oleh kawasan Mandalika (Kuta Mandalika) dan event olahraga internasional dengan karakteristik pada sport tourism (MotoGP, WSBK) dan wisata alam (Lombok, Sumbawa).

Memiliki konektivitas hubungan terdekat dengan Bali (udara, darat dan laut), dengan penerbangan langsung dan akses laut yang semakin baik, berperan sebagai penopang utama pariwisata Bali, terutama dalam menarik niche market (pecinta otomotif/petualangan).  

Sementara NTT hadir dengan destinasi Premium & Eco-Tourism, dengan kinerja pariwisata dengan pertumbuhan fokus pada Labuan Bajo (Manggarai Barat) sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
 
Wisata NTT berkarakteristik eco-tourism (Taman Nasional Komodo), wisata budaya, dan bahari, memiliki keunggulan pengalaman premium dan eksklusif yang berbeda dari pariwisata massal di Bali, dengan tantangan infrastruktur di luar Labuan Bajo masih terbatas dan konektivitas udara yang perlu ditingkatkan. 

Dalam hal ini telah lahir konsep pariwisata Labuhan Bajo Flores terintegrasi, yang juga perlu menjangkau Alor, Timor, Sabu, Rote dan Sumba dengan ekostisme tersendiri sebagai pulau sandlewood. 

Tantangan

Kita perlu mencari apa saja tantangan-tantangan yang dihadapi NTT dalam proses kerja sama dimaksud agar kemajuan Sunda Kecil terintegrasi dalam nafas Kepulauan Nusa Tenggara sebagai satu kesatuan. 

Karena itu, NTT perlu memiliki kerendahan hati untuk mau belajar atau menimba ilmu dari Bali dan NTB, dalam hal kemanfaatan pariwisata yang terdistribusi merata ke semua gugus pulau-pulau di NTT daripada hanya terpusat di Labuhan Bajo yang sangat premium itu. 

Apa artinya memiliki Labuhan Bajo jika tidak memberi efek domino pada aliran larva ekonomi ke seluruh wiilayah NTT sebagai gugusan kepulauan indah dan elok. 

Karena itu, Pemerintah NTT perlu memastikan bahwa elitisme Labuhan Bajo adalah elitisme yang dermawan dan adil bagi kabupaten dan kota lainnya di NTT. 

NTT selain membangun sinergi antar provinsi di Sunda Kecil, harus segera membangun sinergi internal oleh  pemerintah dengan pelaku usaha dan masyarakat, untuk memaksimalkan potensi pariwisata di NTT include memaksimalkan promosi wisata serta menata dengan baik infrastruktur. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan yakni membenahi transportasi, akomodasi, frasilitas umum, kampanye digital, pameran pariwisata, pelatihan Bahasa asing, pelatihan hospitality dan pelatihan ketrampilan khusus terutama bagi Masyarakat yang tinggal atau berada di sekitar kawasan wisata, juga tidak boleh dilupakan, kesiagaan bencana di setiap spot wisata. 

Ada hal menarik dari kerja sama Sunda Kecil yakni pada point integrasi perencanaan pembangunan. 

NTT perlu mencermati atau bisa disebut belajar dari Provinsi Bali yang sudah menerapkan sistem atau pola perencanaan pembangunan daerah terintegrasi untuk sembilan kabupaten/kota di sana. 

Model perencanaan pembangunan Provinsi Bali menggunakan pendekatan Pola Pembangunan Semesta Berencana (PPSB) dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, yang berfokus pada menjaga kesucian dan keharmonisan alam, manusia, serta budaya Bali secara sakala (sekular/nyata) dan niskala (spiritual). 

Model ini berlandaskan filosofi Tri Hita Karana yang dijabarkan melalui kearifan lokal Sad Kerthi, dilaksanakan secara terintegrasi satu pulau, satu pola, dan satu tata kelola. 

Perlu diperhatikan bahwa tiga Sunda Kecil ini memiliki karakteristik budaya dan agama yang khas.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved