Opini
Opini: Super Flu yang Viral di Media Sosial, Nyata di Dunia Medis
Vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok berisiko, perlu terus didorong karena menurunkan keparahan penyakit dan angka komplikasi.
Oleh: Prima Trisna Aji
Dosen Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang.
POS-KUPANG.COM - Beberapa pekan lalu seorang kerabat saya sebut saja Bapak Satriya (nama samaran) mengalami demam tinggi, batuk hebat, dan nyeri badan yang tak kunjung reda.
Awalnya ia mengira hanya flu biasa. Ia tetap beraktivitas, minum obat bebas, dan berharap kondisi membaik dengan sendirinya.
Namun memasuki hari ketiga, demam tak turun, napas terasa berat, dan tubuhnya semakin lemah.
Keluarga akhirnya membawanya ke Instalasi Gawat Darurat sebuah rumah sakit di Surakarta.
Pemeriksaan menunjukkan infeksi saluran napas bawah yang memerlukan perawatan intensif dan pemantauan ketat.
Baca juga: Super Flu Masuk NTT, Dua Warga NTT Positif, Pemkab Nagekeo Instruksikan PHBS
Pengalaman Bapak Satriya bukan kisah tunggal. Di berbagai fasilitas kesehatan, tenaga medis menghadapi peningkatan pasien dengan keluhan serupa.
Di media sosial, kondisi ini populer disebut super flu istilah nonmedis yang viral karena menggambarkan flu dengan gejala lebih berat, lebih lama, dan terasa lebih “menghantam” dibandingkan flu musiman yang biasa kita kenal.
Ketika Flu Tak Lagi Terasa Ringan
Secara ilmiah, super flu bukanlah diagnosis resmi. Namun istilah ini mencerminkan realitas klinis yang sedang dihadapi.
Pasien datang dengan demam tinggi berkepanjangan, batuk produktif, kelelahan ekstrem, bahkan penurunan saturasi oksigen, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, penderita penyakit kronis, perokok, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Sejumlah penelitian terbaru memberikan penjelasan ilmiah atas fenomena ini.
Studi yang dipublikasikan pada 2024-2025 dalam jurnal virologi dan kesehatan masyarakat menunjukkan adanya sirkulasi bersamaan beberapa virus pernapasan seperti influenza, rhinovirus, dan RSV yang dapat memperberat gejala klinis.
Penelitian lain menyoroti menurunnya kekebalan populasi terhadap virus pernapasan akibat perubahan pola paparan selama pandemi, sehingga ketika aktivitas sosial kembali normal, tubuh tidak sepenuhnya siap menghadapi infeksi yang sebenarnya lazim.
Ditambah lagi, faktor gaya hidup modern ikut berperan. Kurang tidur, stres berkepanjangan, polusi udara, serta pola makan yang tidak seimbang melemahkan sistem imun.
Flu yang seharusnya ringan pun menjadi lebih berat dan mengganggu kualitas hidup.
Viralitas, Kepanikan, dan Kekosongan Informasi
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Berpendapat dalam Keprihatinan |
|
|---|
| Opini: Peta Jalan Menuju Malaka Bersih dari Korupsi |
|
|---|
| Opini: Bahasa Biologi- Puisi Kehidupan dari Molekul hingga Makhluk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji2.jpg)