Opini
Opini: Pandangan yang Sama
Fokusnya bukan lagi pada dirinya, bukan pada metode baptisan, bukan pada ritual melainkan pada Yesus.
Akibatnya, tanpa sadar, kita lupa melihat Yesus yang sebenarnya sedang berjalan mendekat.
Pertanyaannya jadi tajam: apakah kita sedang menunjuk kepada Kristus, atau justru sibuk menunjuk diri dan kelompok kita sendiri?
Tentu setiap gereja punya kekhasan dan keindahan masing-masing. Itu wajar dan bahkan perlu. Identitas membuat iman jadi kokoh.
Tapi di situ juga ada garis tipis yang berbahaya: dari rasa syukur atas keunikan diri, bisa bergeser ke sikap “kami paling benar” dan “yang lain kurang tepat”. Di sinilah gesekan sering lahir.
Perbedaan lahiriah gampang sekali memicu perdebatan. Misalnya soal baptisan: ada yang dengan cara selam, tuang, atau percik.
Semua terlihat berbeda. Tapi kalau berhenti di situ, kita baru bermain di permukaan.
Yohanes Pembaptis sendiri menegaskan bahwa baptisannya dengan air hanyalah awal.
Yesus datang membawa baptisan Roh, sesuatu yang jauh lebih dalam dan paripurna. Artinya, yang utama bukan teknis ritualnya, melainkan karya Allah yang mengubah manusia dari dalam.
Yang menarik, Yohanes juga menunjukkan hal lain yang sangat menghentakkan kita di tengah godaan akan kesombongan diri menjadi sangat kuat. Yang dimaksud adalah Yohanes menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa.
Ia mengakui bahwa dirinya tidak mengenal Yesus sebelum Allah sendiri menyatakannya. Seorang nabi besar pun berani berkata, “Saya terbatas.”
Ini sikap rohani yang sangat penting dalam dialog antar gereja. Persatuan tidak akan tumbuh dari klaim kebenaran sepihak, melainkan dari kerendahan hati untuk saling belajar, saling mendengar, dan memberi ruang bagi Allah bekerja melampaui batas-batas yang kita buat.
Pekan Doa Sedunia mengundang gereja-gereja untuk datang dengan hati terbuka, bukan dengan prasangka.
Bukan dengan mental tanding, tetapi dengan sikap peziarah yang sama-sama sedang berjalan menuju Kristus.
Lebih dari itu, Yohanes menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Bukan dosa satu kelompok, satu denominasi, atau satu bangsa saja—melainkan dosa dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Robert-Bala-ceramah.jpg)