Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Mengakhiri "Makam" di Perairan Labuan Bajo

Kita seolah dipaksa menyaksikan kenyataan pahit: betapa murahnya harga nyawa di tengah megahnya promosi pariwisata eksklusif.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Sarlianus Poma 

Catatan Kelam Pariwisata Super Prioritas

Oleh: Sarlianus Poma, S.Pd., M.M 
Dosen Ilmu Manajemen, Editor in Chief Jurnal JERBUM & Ketua LPPM STIM Kupang.

POS-KUPANG.COM - Tragedi kembali membasuh wajah pariwisata kita dengan air mata. Perairan Selat Pulau Padar, Labuan Bajo, yang biasanya dipuja karena gradasi birunya yang memukau, pada Sabtu (27/12/2025) berubah menjadi panggung maut yang memilukan. 

Kapal wisata Putri Sakinah karam, merenggut nyawa Fernando Martin Carreras—seorang pelatih tim sepak bola putri Valencia asal Spanyol beserta ketiga buah hatinya.

Kejadian ini bukan sekadar berita duka yang lewat begitu saja di lini masa media sosial. 

Baca juga: Fakta-Fakta Kapal Wisata yang Bawa Pelatih Valencia Tenggelam di Labuan Bajo

Insiden ini adalah tamparan keras, sebuah guncangan hebat bagi kesadaran nasional kita. 

Di balik status menterengnya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Labuan Bajo ternyata masih menyimpan lubang besar dalam sistem mitigasi keselamatannya. 

Kita seolah dipaksa menyaksikan kenyataan pahit: betapa murahnya harga nyawa di tengah megahnya promosi pariwisata eksklusif.

Jika kita menilik data sepanjang tahun 2024 hingga akhir 2025, tercatat sedikitnya ada 15 kecelakaan kapal wisata yang terjadi di perairan Manggarai Barat dan sekitarnya. 

Rentetan kejadian mulai dari kapal karam, dihantam gelombang, hingga kerusakan mesin teknis bukanlah sebuah kebetulan statistik. 

Ada satu benang merah yang sangat nyata di sini: kelalaian yang terus dibiarkan dan dipelihara.

Persoalan ini bersifat sistemik dan terus berulang tanpa ada perbaikan yang berarti. 

Masalahnya berlapis bak bawang. Di satu sisi, ada dugaan kuat kapal-kapal yang beroperasi tidak memenuhi standar keselamatan pelayaran yang ketat. 

Alat keselamatan seperti jaket pelampung (life jacket) yang minim hingga kapabilitas awak kapal yang dipertanyakan masih sering ditemukan di lapangan.

Ironisnya, banyak dari kecelakaan ini justru terjadi saat kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved