Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Mengakhiri "Makam" di Perairan Labuan Bajo

Kita seolah dipaksa menyaksikan kenyataan pahit: betapa murahnya harga nyawa di tengah megahnya promosi pariwisata eksklusif.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Sarlianus Poma 

Logika sederhana seharusnya mendikte bahwa cuaca buruk adalah alarm untuk menghentikan seluruh aktivitas pelayaran demi keselamatan jiwa. 

Namun, dalam praktiknya, standar keselamatan ini sering kali "bertekuk lutut" di hadapan kepentingan ekonomi dan tekanan operator. 

Kita lebih takut kehilangan pendapatan harian daripada kehilangan nyawa manusia.

Dalam kasus karamnya Putri Sakinah, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo menduga kapal semipinisi tersebut mengalami mati mesin sebelum akhirnya dihantam gelombang tinggi. 

Dugaan ini menjadi bukti kuat betapa lemahnya pengawasan kelaikan kapal bahkan sejak kapal masih bersandar di dermaga.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di jalur ring of fire, protokol keselamatan transportasi laut Indonesia semestinya berada pada level kelas dunia, bukan sekadar "biasa-biasa saja". 

Standardisasi keselamatan harus menjadi harga mati yang tidak bisa dinegosiasikan dengan dalih apa pun, termasuk efisiensi biaya operasional. 

Kelaikan kapal dan kompetensi awak adalah syarat mutlak yang tidak mengenal kata kompromi.

Sayangnya, kita sering kali terjebak dalam pola pikir reaktif. Kita baru sibuk berbenah, melakukan inspeksi mendadak (sidak), dan mengeluarkan pernyataan keras setelah ada nyawa yang melayang. 

Padahal, pencegahan harus disiapkan secara matang, terintegrasi, dan proaktif. Mengabaikan protokol keselamatan sama saja dengan membiarkan laut kita perlahan berubah menjadi kuburan bagi para pelancong.

Rentetan kecelakaan yang kerap melibatkan warga negara asing (WNA) membuka celah lebar dalam sistem mitigasi nasional kita. 

Indonesia, khususnya NTT, tampak sangat piawai dalam "menjual" eksotisme alam dan komodo ke pasar internasional. 

Namun, kita tampak gagap saat harus memberikan jaminan perlindungan nyawa bagi mereka yang datang dengan penuh kepercayaan.

Dunia internasional sedang memperhatikan kita. Jika kita terus-menerus mengabaikan aspek fundamental keselamatan ini, maka label "Pariwisata Super-Prioritas" hanya akan menjadi slogan kosong yang dibungkus dengan tragedi. 

Kita tidak bisa hanya menawarkan pemandangan indah tanpa memberikan kepastian bahwa pengunjung akan pulang ke rumah dengan selamat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved