Jumat, 24 April 2026

Opini

Renungan Minggu 7 Desember 2025: Advent, Harapan Baru dan Pertobatan yang Menghidupkan

Paus Fransiskus menegaskan: “Tuhan selalu mengampuni; manusia kadang-kadang mengampuni; tetapi alam tidak pernah mengampuni.”

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROMO LEO MALI
Romo Leo Mali 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Masa Advent selalu datang sebagai undangan halus namun tegas untuk melihat kembali arah hidup kita. 

Di Indonesia dan banyak wilayah Asia, kehadirannya bertepatan dengan awal musim hujan. 

Alam menjadi guru pertama kita: dari tanah yang retak muncul tunas-tunas hijau; pohon yang meranggas kembali berdaun; padang rumput yang sebelumnya gersang kini diselimuti warna kehidupan. 

Semua ini memperlihatkan ritme ilahi yang selalu memberi kesempatan bagi hidup untuk muncul kembali. 

Seakan alam sendiri ikut berkhotbah, bahwa hidup manusia pun dapat bertunas kembali bila air rahmat dicurahkan ke atas tanah hati yang kering. 

Baca juga: Opini: Adventus dalam Aksi, Gereja Merespons Tantangan Sosial

Dalam kacamata iman, inilah nada dasar masa Advent—harapan tiba dalam kesegaran yang baru. 

Kitab Yesaya menangkap gerak hidup ini dengan sangat puitis ketika melukiskan munculnya tunas dari tunggul Isai (Yes 11:1–10). 

Gambaran tersebut tidak hanya bernuansa mesianis tetapi juga ekologis: kehidupan yang baru lahir dari sesuatu yang tampaknya mati. 

Harapan tidak muncul dari ruang steril, melainkan dari tunggul—dari masa lalu yang terluka, dari sejarah bangsa yang dirusak oleh ketidaksetiaan. 

Di situlah Allah menumbuhkan sesuatu yang baru. Dan tanda kehadiran Mesias adalah damai: serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping kambing, dan anak singa makan rumput bersama lembu. 

Gambaran-gambaran ini mengungkapkan sebuah harmoni kosmik di mana relasi relasi yang rusak— baik antara manusia dan manusia, maupun antara manusia danalam—dipulihkan oleh kehadiran Mesias. 

Namun Advent bukan sekadar pengharapan pasif. Bacaan Injil menegaskan bahwa harapan selalu mengandaikan pertobatan. 

Yohanes Pemandi menyiapkan jalan bagi Tuhan dengan seruan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 3:2). 

Ia menyentil kaum Farisi dan Saduki sebagai “keturunan ular beludak” bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menggugah kesadaran mereka yang menganggap keselamatan sebagai hak turun-temurun. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved