Opini
Renungan Minggu 7 Desember 2025: Advent, Harapan Baru dan Pertobatan yang Menghidupkan
Paus Fransiskus menegaskan: “Tuhan selalu mengampuni; manusia kadang-kadang mengampuni; tetapi alam tidak pernah mengampuni.”
Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Masa Advent selalu datang sebagai undangan halus namun tegas untuk melihat kembali arah hidup kita.
Di Indonesia dan banyak wilayah Asia, kehadirannya bertepatan dengan awal musim hujan.
Alam menjadi guru pertama kita: dari tanah yang retak muncul tunas-tunas hijau; pohon yang meranggas kembali berdaun; padang rumput yang sebelumnya gersang kini diselimuti warna kehidupan.
Semua ini memperlihatkan ritme ilahi yang selalu memberi kesempatan bagi hidup untuk muncul kembali.
Seakan alam sendiri ikut berkhotbah, bahwa hidup manusia pun dapat bertunas kembali bila air rahmat dicurahkan ke atas tanah hati yang kering.
Baca juga: Opini: Adventus dalam Aksi, Gereja Merespons Tantangan Sosial
Dalam kacamata iman, inilah nada dasar masa Advent—harapan tiba dalam kesegaran yang baru.
Kitab Yesaya menangkap gerak hidup ini dengan sangat puitis ketika melukiskan munculnya tunas dari tunggul Isai (Yes 11:1–10).
Gambaran tersebut tidak hanya bernuansa mesianis tetapi juga ekologis: kehidupan yang baru lahir dari sesuatu yang tampaknya mati.
Harapan tidak muncul dari ruang steril, melainkan dari tunggul—dari masa lalu yang terluka, dari sejarah bangsa yang dirusak oleh ketidaksetiaan.
Di situlah Allah menumbuhkan sesuatu yang baru. Dan tanda kehadiran Mesias adalah damai: serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping kambing, dan anak singa makan rumput bersama lembu.
Gambaran-gambaran ini mengungkapkan sebuah harmoni kosmik di mana relasi relasi yang rusak— baik antara manusia dan manusia, maupun antara manusia danalam—dipulihkan oleh kehadiran Mesias.
Namun Advent bukan sekadar pengharapan pasif. Bacaan Injil menegaskan bahwa harapan selalu mengandaikan pertobatan.
Yohanes Pemandi menyiapkan jalan bagi Tuhan dengan seruan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 3:2).
Ia menyentil kaum Farisi dan Saduki sebagai “keturunan ular beludak” bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menggugah kesadaran mereka yang menganggap keselamatan sebagai hak turun-temurun.
Leo Mali
Renungan Harian Katolik
Renungan Minggu
Pertobatan Ekologis
Paus Fransiskus
banjir bandang
POS-KUPANG.COM
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
| Opini: Pendidikan sebagai Jalan Pemulihan Martabat Manusia di Era Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Romo-Leo-Mali.jpg)