Opini
Opini: HIV Meretakkan Kota
Remaja tidak tiba-tiba masuk ke dunia prostitusi karena satu keputusan buruk; mereka ditarik oleh arus yang lebih besar.
Ketika kepala DP3A menyebut hilangnya figur ayah sebagai salah satu faktor utama, itu bukan sekadar tentang ketidakhadiran fisik seorang bapak, melainkan absennya ekosistem pendampingan yang stabil.
Dalam banyak kasus, ayah mungkin ada di rumah, tetapi tidak hadir dalam percakapan, tidak hadir dalam memberi arah, tidak hadir dalam menyediakan rasa aman.
Ketiadaan figur pendamping membuat anak-anak mencari afirmasi, perhatian, dan eksistensi di tempat-tempat yang salah.
Di sinilah persoalan HIV/AIDS tidak bisa dipahami hanya sebagai masalah kesehatan reproduksi atau penyimpangan moral.
Ia adalah gejala dari krisis relasi dan krisis makna. Bila harga “kasih sayang” direduksi menjadi Rp50 ribu per transaksi, yang sebetulnya sedang terjadi adalah fragmentasi nilai di mana tubuh menjadi satu-satunya aset yang dianggap memiliki daya tukar.
Tetapi menyalahkan keluarga saja juga tidak adil. Kupang sendiri sedang berubah cepat.
Orang terus bergerak, ekonomi tidak merata, dan kehidupan makin longgar dari ikatan komunitas.
Banyak aturan dan pengawasan yang dulu dijaga bersama kini hilang, sementara perlindungan dari sekolah, pemerintah, atau lembaga resmi belum benar-benar kuat.
Akibatnya, banyak remaja tumbuh sendirian tanpa pegangan dan tanpa lingkungan yang bisa menjaga mereka dengan aman.
Data sebaran kasus di Oebobo 21 persen, Kelapa Lima 20 persen, Maulafa 19 persen menunjukkan bahwa sebagian besar kasus berada di kawasan kota dengan aktivitas penduduk yang relatif tinggi.
Lingkungan seperti ini sering tampak ramai, namun tidak selalu menjamin adanya kedekatan atau keterhubungan antarwarga.
Banyak anak hidup dalam rumah-rumah yang penuh orang, namun tidak memiliki seseorang yang benar-benar menjadi tempat kembali saat mereka kebingungan dan terluka.
Karena itu, solusi tidak bisa berhenti pada sosialisasi bahaya HIV atau kampanye penggunaan kondom. Hal-hal tersebut penting, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.
Masalah ini membutuhkan rekonstruksi ulang ekosistem sosial Kota Kupang tentang bagaimana sekolah menjadi ruang dialog, bukan sekadar ruang aturan; bagaimana keluarga memulihkan fungsinya sebagai tempat berlindung;
Bagaimana pemerintah daerah membangun sistem perlindungan anak yang tidak hanya aktif saat skandal mencuat; dan bagaimana masyarakat membangun Kembali budaya kepedulian yang tidak hanya muncul dalam doa, tetapi juga dalam tindakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Aprianus-Paskalius-Taboen.jpg)