Opini

Opini: HIV Meretakkan Kota

Remaja tidak tiba-tiba masuk ke dunia prostitusi karena satu keputusan buruk; mereka ditarik oleh arus yang lebih besar.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI APRIANUS P TABOEN
Aprianus Paskalius Taboen 

Oleh: Aprianus Paskalius Taboen, S.Pd., M.Si

Dosen Sosiologi FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Angka 2.539 kasus HIV/AIDS di Kota Kupang hingga September 2025 sebetulnya bukan sekadar data kesehatan, tetapi juga merupakan cermin besar yang memperlihatkan bahwa ada retakan sosial yang selama ini dibiarkan samar.

Ketika Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) melaporkan bahwa pelajar dan mahasiswa menempati posisi tertinggi di antara kelompok penderita, melampaui bahkan kelompok yang selama ini dianggap paling rentan seperti pekerja seks, maka kota ini sedang dihadapkan pada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan perilaku berisiko.

Baca juga: Anak Magang FKKH Undana Jadi Ujung Tombak Edukasi HIV/AIDS dan Kesehatan Mental di Puskesmas Oebobo

Kita sedang melihat perubahan struktur kehidupan sosial yang bekerja secara senyap namun kuat, memengaruhi cara anak-anak dan remaja memahami tubuh, nilai, dan relasi dengan dunia orang dewasa.

Penemuan praktik prostitusi yang melibatkan pelajar SMP, beberapa di antaranya melayani hingga delapan orang per hari dengan tarif murah dan tanpa perlindungan, mengungkap bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan “nakal” atau “salah pergaulan”.

Bila fenomena semacam ini muncul secara sistematis melibatkan banyak sekolah, terkoordinasi melalui grup WhatsApp, dan terus berulang, maka jelas ada mekanisme sosial yang memproduksinya. 

Remaja tidak tiba-tiba masuk ke dunia prostitusi karena satu keputusan buruk; mereka ditarik oleh arus yang lebih besar.

Data profesi menunjukkan pekerja swasta mencatat 889 kasus, ibu rumah tangga 406 kasus, dan pelajar 254 kasus. 

Ini menandakan bahwa HIV telah menyebar di berbagai lapisan masyarakat, di rumah, di tempat kerja, dan di sekolah. 

Tekanan ekonomi, relasi keluarga yang rapuh, dan keresahan anak muda ikut mendorong munculnya perilaku berisiko. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa kota sebetulnya belum siap menghadapi perubahan sosial yang terjadi.

Jika ada satu hal yang paling mencolok dalam temuan KPAD dan DP3A, itu adalah bahwa anak-anak kini bernegosiasi dengan dunia digital tanpa pendampingan emosional yang memadai. 

Aplikasi perpesanan yang mestinya jadi ruang belajar dan komunikasi, telah berubah menjadi infrastruktur transaksi seksual.

Bukan karena teknologi itu sendiri jahat, tetapi karena ia hadir di tengah keluarga yang rentan dan komunitas yang tidak siap. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved