Opini
Opini: Soeharto dan Penjernihan Makna Pahlawan
Pemerintah beralasan bahwa jasa Soeharto dalam menjaga stabilitas nasional dan mendorong pembangunan ekonomi layak diapresiasi.
Pemberian gelar pahlawan kepada tokoh dengan rekam jejak ambivalen berisiko merelatifkan standar moral bangsa.
Bila “jasa pembangunan” dijadikan ukuran tunggal, maka heroisme berubah menjadi perhitungan politis.
Negara berpotensi menghapus ingatan kolektif tentang penderitaan rakyat, menjadikan sejarah alat legitimasi kekuasaan.
Bangsa yang menoleransi pelupaan seperti ini kehilangan kompas moral. Ia menulis ulang sejarah bukan dengan tinta kebenaran, melainkan dengan narasi kemenangan.
Padahal, gelar pahlawan seharusnya berfungsi sebagai cermin nilai bersama—pengingat bahwa kebajikan tidak boleh dikalahkan oleh otoritas kekuasaan.
Di titik ini, pemikiran Andrew Bernstein memberi relevansi kontemporer. Ia mendefinisikan pahlawan sebagai individu yang menunjukkan keagungan moral dan keteguhan nilai di tengah oposisi besar, serta mencapai kemenangan—setidaknya secara spiritual.
Pahlawan, bagi Bernstein, bukan figur tanpa cela, melainkan manusia yang konsisten mempertahankan nilai luhur ketika berhadapan dengan tekanan dan bahaya.
Dengan kacamata Bernstein, heroisme Soeharto hanya dapat diuji bukan dari keberhasilannya memimpin pembangunan, melainkan dari sejauh mana ia mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebebasan di tengah pergulatan kekuasaan.
Di sinilah penilaian publik menemukan kegamangan: di antara keberhasilan teknokratis dan jejak penderitaan manusia yang belum disembuhkan.
Pahlawan sejati bukan sekadar produk sejarah, melainkan penjaga nurani bangsa. Mereka mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa moralitas akan menghancurkan makna pengorbanan.
Gelar pahlawan mestinya menjadi pernyataan moral tertinggi negara—bahwa kebajikan lebih berharga daripada stabilitas politik.
Karena itu, penghargaan terhadap tokoh seperti Soeharto tanpa disertai rekonsiliasi dan klarifikasi moral yang jujur dapat merusak makna simbolik penghargaan itu sendiri.
Ia mengaburkan batas antara penghormatan dan pengkhianatan terhadap nilai.
Penjernihan makna kepahlawanan bukanlah upaya menghapus jasa siapa pun, melainkan usaha menegakkan standar moral yang konsisten.
Aristoteles menuntut kebajikan; Pieper menegaskan keadilan; Bernstein mengingatkan pentingnya kemenangan moral.
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
| Opini - Budaya yang Mengalir: Reinterpretasi Tradisi Lokal NTT melalui Kosmologi Heraklitos |
|
|---|
| Opini: Duduk Melingkar Bersama Guru- Proficiat, Prof. Otto Gusti Madung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Vitalis-Wolo2.jpg)