Opini
Opini: Kesehatan Petani dan Paparan Pestisida
Kesadaran masyarakat dan peran konsumen juga penting untuk mendorong permintaan pangan yang dihasilkan secara aman dan berkelanjutan.
Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Keberhasilan produksi pangan nasional sering diukur dari angka panen, stabilitas harga, dan ketersediaan pasokan. Capaian ini dianggap indikator utama pembangunan pertanian.
Namun, di balik angka itu, kesehatan petani jarang diperhitungkan. Setiap musim tanam, jutaan petani bersentuhan langsung dengan pestisida, bahan kimia yang menjadi tulang punggung pertanian modern sekaligus sumber risiko jangka panjang.
Paparan pestisida bukan peristiwa sekali saja. Ia terjadi berulang, bertahun-tahun, melalui kulit, pernapasan, dan kontak tidak langsung saat pencampuran, penyemprotan, hingga pascapanen.
Banyak petani bekerja tanpa alat pelindung diri memadai. Faktor ekonomi, kebiasaan kerja, dan minimnya pendampingan membuat risiko ini dianggap normal.
Baca juga: Opini: Hukum yang Berpihak, Keadilan yang Patah
awal sering ringan dan mudah diabaikan. Pusing, mual, lelah, iritasi kulit, dan gangguan tidur kerap dikira akibat kelelahan.
Dampak kronis berkembang perlahan. Ketika penyakit serius muncul, kaitannya dengan pestisida sering terlambat dikenali. Banyak penyakit tercatat hanya sebagai gejala umum, tanpa identifikasi spesifik.
Akibatnya, persoalan kesehatan petani tetap tersembunyi. Perlindungan pekerja pangan jarang menjadi prioritas kebijakan publik.
Padahal, kesehatan petani seharusnya menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan pertanian. Angka produksi tinggi tidak cukup jika pekerja menanggung risiko jangka panjang.
Memperhatikan kesejahteraan petani berarti menjamin keberlanjutan produksi, kualitas pangan, dan ketahanan pertanian.
Paparan Kronis
Bagi banyak petani kecil, paparan pestisida bukan kebetulan. Itu bagian dari rutinitas sehari-hari.
Tekanan produksi, keterbatasan modal, dan tuntutan pasar membuat pestisida kimia menjadi pilihan utama.
Risiko kesehatan dianggap bagian dari pekerjaan, hampir seperti takdir yang diterima begitu saja.
Penggunaan alat pelindung diri sangat minim. Masker, sarung tangan, dan pakaian pelindung dianggap mengganggu, terutama di cuaca panas.
Kurangnya pelatihan dan pendampingan membuat kesalahan dosis dan cara aplikasi menjadi hal biasa. Praktik ini memperkuat risiko kesehatan secara berulang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Yoneta-Motong-Wuwur.jpg)