Opini
Opini: Algoritma Bahasa Politik
Proses ini mirip optimasi: pesan yang paling efektif diseleksi dan dipakai berulang kali. Dan masyarakat terjebak dalam permainan ini.
Setiap penggunaan bahasa membawa nilai-nilai filosofis tersirat: optimisme, paternalistik, egalitarian, atau teknokratis.
Politikus yang memilih retorika optimis dan hangat mengirim sinyal harapan; yang memilih bahasa teknis menekankan kompetensi; yang memakai retorika moral menuntut legitimasi dari janji keadilan.
Warna filosofis inilah yang memberi nuansa estetika pada ujaran politik—namun juga menunjukkan orientasi etis pembicara.
Tanggung jawab etis menuntut agar bahasa politik tidak menipu. Seorang pembuat janji seharusnya menimbang antara kebutuhan untuk memobilisasi dukungan dan kewajiban untuk berkata jujur tentang batasan, risiko, dan trade-off kebijakan.
Bahasa politik yang bertanggung jawab adalah bahasa yang mampu mempertahankan daya tarik emosional sekaligus transparan tentang mekanisme, biaya, dan konsekuensi.
Untuk itu perlunya catatan kritis rekomendatif untuk membangun satu pola pemikiran yang benar dalam konteks algoritma bahasa politik bagi para pejabat publik sejak awal mereka mencalonkan diri maupun bagi warga masyarakat pada umumnya untuk menjebol algoritma dengan rekomendasi untuk publik dan pembuat kebijakan:
1. Literasi politik publik: Meningkatkan kemampuan warga membaca retorika—membedakan slogan dari rencana—adalah cara utama menjebol algoritma.
Pendidikan media dan literasi politik membantu publik menuntut bukti, bukan sekadar kata-kata manis.
2. Transparansi dan akuntabilitas: Politikus harus diharuskan mempublikasikan rencana operasional dan indikator kinerja. Janji yang disertai target terukur memudahkan evaluasi.
3. Etika komunikasi politik: Kode etik yang mengatur klaim publik, terutama dalam kampanye, dapat mengurangi penyebaran klaim yang menyesatkan.
4. Ruang publik kendali: Media dan lembaga pengawas independen perlu berperan menilai klaim politik dan menyajikan analisis yang mengungkap asumsi-asumsi tersembunyi.
Catatan akhir
Algoritma bahasa politik mengingatkan kita bahwa kata-kata adalah alat berkuasa: mereka bisa menjembatani harapan dan realitas, tetapi juga mencerminkan ambisi dan keterbatasan pembicara.
Bahasa yang manis di bibir dapat menginspirasi, namun tanpa integritas dan detail yang jujur, ia hanyalah kosmetik retorika.
Untuk demokrasi yang sehat, kita butuh lebih dari sekadar kata-kata indah; kita butuh janji yang bisa diukur, kebijakan yang nyata, dan warga yang mampu membaca di balik pesona linguistik.
Hanya dengan begitu bahasa politik bisa kembali menjadi sarana untuk memajukan kebaikan bersama, bukan sekadar alat optimasi dukungan. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Grooming Bukan Cinta- Pelajaran Pahit dari Buku Broken Strings |
|
|---|
| Opini: Budaya Kepatuhan Simbolik dan Krisis Akuntabilitas Infrastruktur di Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Iman yang Rajin Tapi Takut Jujur |
|
|---|
| Opini: Ketika Belanja Pegawai Menggerus Ruang Fiskal Produktif NTT |
|
|---|
| Opini: Sekolah Aman Itu Urusan Siapa? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/PIO-HAYON_06.jpg)