Opini

Opini: Algoritma Bahasa Politik

Proses ini mirip optimasi: pesan yang paling efektif diseleksi dan dipakai berulang kali. Dan masyarakat terjebak dalam permainan ini. 

Editor: Dion DB Putra
DOK. POS-KUPANG.COM
Bruder Pio Hayon SVD 

Kendala muncul ketika optimasi retorika mengabaikan kebenaran teknis dan etika. 
Janji yang didesain semata untuk memenangkan simpati tanpa blueprint pelaksanaan membuka celah bagi kekecewaan dan erosi kepercayaan. 

Lebih parah, bila algoritma bahasa ini terprogram oleh kepentingan sempit—klien politik, lobi, atau penyederhanaan isu demi kepentingan elektoral—publik kehilangan kesempatan untuk berdiskusi tentang kebijakan substantif.

Bahasa sederhana: kekuatan dan jebakan

Bahasa yang sederhana bukan selalu buruk. Ia dapat menjadi alat pemberdayaan—membawa wacana teknis ke ranah publik sehingga lebih banyak orang bisa ikut menilai dan berpartisipasi. 

Kesederhanaan yang jujur mendorong transparansi: penjelasan yang rapi tentang bagaimana program bekerja, berapa biayanya, dan siapa yang diuntungkan.

Tetapi ada perbedaan antara menyederhanakan untuk menjelaskan dan “menyedikitkan” (oversimplify) demi menarik simpati. 

Dalam praktik politik, penyederhanaan yang menyesatkan sering hadir sebagai narasi yang memoles realitas kompleks menjadi solusi instan. 

Inilah jebakan algoritma: ketika bahasa sederhana dipakai untuk menutupi ketidakmampuan atau ketidaksiapan pelaksana, bukan untuk memperjelas pilihan yang sulit. 

Karena penyederhanaan berlebihan dapat menyebabkan publik kehilangan pemahaman terhadap isu-isu penting, seperti kebijakan ekonomi atau lingkungan.

Kekuatan dari algoritma bahasa politik ini terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi persepsi dan emosi publik. 

Kata-kata yang manis dapat membangkitkan rasa optimisme dan harapan, bahkan di tengah tantangan yang berat. 

Namun, risiko besar muncul ketika bahasa ini digunakan untuk menutupi realitas yang pahit. 

Menurut laporan dari Edelman Trust Barometer, 63 persen responden merasa bahwa mereka tidak percaya pada informasi yang diberikan oleh politisi. 

Penting bagi kita, sebagai masyarakat, untuk lebih kritis terhadap bahasa yang digunakan dalam politik. 

Kita harus berani mempertanyakan substansi di balik kata-kata manis. Ini bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif bahwa bahasa adalah alat yang bisa digunakan untuk memberdayakan atau menipu.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved