Kamis, 16 April 2026

Opini

Opini: Saat Beras Jadi Ketergantungan, Pangan Lokal Bisa Jadi Solusi

Ubi jalar, sorgum, jagung, dan umbi-umbian lainnya sejak lama dikenal sebagai tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan lahan marginal. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HILDEGARDIS MISSA
Hildegardis Missa 

Oleh: Hildegardis Missa 
Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Pangan masih menjadi isu krusial di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Meski wilayah ini kaya akan sumber daya hayati, masyarakatnya justru rentan terhadap krisis pangan. 

Fenomena stunting yang tinggi, ketergantungan pada beras impor, serta produksi pertanian yang rentan akibat iklim ekstrem menjadi gambaran nyata persoalan ini. 

Ironisnya, di tengah kerentanan tersebut, pangan lokal yang adaptif terhadap kondisi alam NTT justru belum dimanfaatkan optimal.

Ubi jalar, sorgum, jagung, dan umbi-umbian lainnya sejak lama dikenal sebagai tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan lahan marginal. 

Baca juga: Opini: NTT Darurat Literasi, Dari Seremoni ke Evidensi

Ubi jalar misalnya, mampu tumbuh di tanah kering dengan input minimal, sementara sorgum memiliki keunggulan gizi serta daya tahan terhadap cuaca panas. 

Namun, dalam praktiknya, pangan lokal ini sering dipandang sebagai “pangan kelas dua” dibanding beras

Kebijakan pangan dan pola konsumsi masyarakat pun lebih banyak berorientasi pada beras, sehingga komoditas lokal hanya menjadi pelengkap, bukan penopang utama ketahanan pangan.

Persoalan lain yang memperlemah posisi pangan lokal adalah keterbatasan pengolahan pascapanen. 

Ubi jalar, misalnya, lebih sering dijual dalam bentuk segar dengan harga rendah. 

Padahal, jika diolah menjadi tepung, keripik, atau bahan baku industri pangan sehat, ubi jalar bisa memiliki nilai tambah tinggi. 

Rendahnya diversifikasi produk membuat petani kehilangan insentif untuk mengembangkan komoditas lokal secara berkelanjutan.

Masalah distribusi dan infrastruktur juga ikut memperburuk kondisi. Banyak daerah di NTT yang sulit dijangkau, sehingga kelebihan produksi di satu wilayah tidak dapat menutup kekurangan di wilayah lain. 

Akibatnya, pangan lokal yang berlimpah sering terbuang, sementara masyarakat di daerah lain menghadapi kelangkaan. 

Di sisi lain, nilai sosial beras sebagai simbol kesejahteraan memperkuat pergeseran konsumsi masyarakat, yang semakin meninggalkan pangan lokal.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved