Opini
Opini: Petani di Simpang Jalan, Agriculture atau Agribusiness?
Generasi muda pun banyak yang enggan melanjutkan pekerjaan bertani karena dianggap tidak menjanjikan.
Sebaliknya, istilah agribusiness menautkan sawah dan ladang dengan business; logika untung rugi, percepatan, dan akumulasi modal.
Dari sinilah pergeseran makna dimulai: dari agriculture yang merawat kehidupan, menuju agribusiness yang suka menghitung laba.
Petani: nama yang mulia
Kata tani erat kaitannya dengan bahasa-bahasa dalam rumpun Austronesia.
Bandingkan kata tanim (menanam) dalam bahasa Tagalog (Filipina), tanim-bary (sawah padi) dalam bahasa Malagasy (Madagaskar), dan taru (tanam) dalam Bahasa lokal tertentu di Flores.
Juga dalam bahasa Jawa Kuno kata tani berarti mengolah tanah, dengan imbuhan pe-, lahirlah kata petani: orang yang menghidupi bumi.
Berbeda dengan istilah farmer (Inggris) yang awalnya berarti pemungut pajak, atau paysan (Prancis) yang sekadar menunjuk “orang desa,” istilah petani di Nusantara sejak awal bermakna mulia: penjaga kehidupan.
Namun kenyataan hari ini begitu ironis. Petani yang seharusnya menjadi pelaku Utama di ladang, justru banyak yang hanya menjadi penonton di tanah sendiri.
Mereka melihat sawah, kebun, atau ladang tetap menghasilkan kehidupan, tetapi hasil itu dinikmati lebih banyak oleh rantai bisnis, tengkulak, dan korporasi besar.
Mayoritas petani adalah gurem
Sensus Pertanian 2023 mencatat ada 27,8 juta petani pengguna lahan di Indonesia.
Dari jumlah itu, 17,25 juta orang (62 persen) adalah petani gurem. Angka ini meningkat tajam dari 14,25 juta pada 2013.
Mayoritas petani gurem berada di Jawa: Jawa Timur (4,48 juta), Jawa Tengah (3,47 juta), Jawa Barat (2,55 juta).
Petani gurem adalah petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar (BPS, 2023).
Lahan sekecil ini jelas tidak cukup untuk menopang hidup layak, apalagi menghadapi kompetisi pasar global.
| Opini: Menjaga Kebenaran Informasi, Merawat Mata Air Demokrasi |
|
|---|
| Opini: Iman yang Terkoneksi- Menggugat Kesenjangan Digital dan Spiritual di NTT |
|
|---|
| Opini: Kebangkitan yang Memberi Pengharapan di Tengah Luka NTT |
|
|---|
| Opini: Menjahit Ulang Sekolah |
|
|---|
| Opini: Dilema Strategis Bank NTT di Tengah Tekanan Fiskal, KUB atau Perseroda? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Zefirinus-Kada-Lewoema1.jpg)