Opini
Opini: Petani di Simpang Jalan, Agriculture atau Agribusiness?
Generasi muda pun banyak yang enggan melanjutkan pekerjaan bertani karena dianggap tidak menjanjikan.
Ia tidak netral, melainkan memfasilitasi kepentingan borjuis agraria yang menguasai tanah, modal, dan perdagangan pangan.
Namun di sisi lain, refleksi Soekarno tentang “tanah untuk rakyat”, gagasan Gramsci tentang hegemoni ide, atau pemikiran Vandana Shiva tentang benih sebagai warisan budaya, memberi kita panduan bahwa jalan lain tetap terbuka: pertanian yang berpihak pada kehidupan, bukan sekadar pada laba.
Menjunjung petani, menjaga bumi
Meski dunia didominasi agribusiness, jalan lain itu ada. Gerakan La Vía Campesina(jalan para petani kecil) yang dicetuskan di Belgia pada tahun 1993 memperkenalkan konsep food sovereignty; kedaulatan pangan.
Prinsipnya sederhana; rakyat berhak menentukan sistem pangan sendiri, sesuai budaya dan ekologi mereka.
Praktik agroekologi, pasar lokal, dan bank benih komunitas membuktikan bahwa pertanian bisa produktif tanpa kehilangan jiwa.
Petani dalam kerangka ini bukan sekadar produsen murah, tetapi penjaga bumi. Mereka yang kini terpinggirkan, sesungguhnya memikul tugas agung; menjaga tanah tetap subur, air tetap jernih, dan bumi tetap hidup.
Di simpang jalan
Indonesia kini berada di simpang jalan. Apakah kita akan terus membiarkan petani menjadi penonton di ladang sendiri, tergilas roda bisnis, atau kita berani menempatkan mereka kembali sebagai subyek sejati; penjaga tanah, penopang kehidupan, tulang punggung peradaban?
Agribusiness mungkin menambah angka GDP, tetapi agriculture sejati menjaga keberlanjutan. Agribusiness memenuhi pasar, tetapi agriculture menjaga bumi.
Hari Tani Nasional adalah pengingat bahwa tanah bukan sekadar komoditas, dan petani bukan sekadar buruh kontrak. Mereka adalah agricola nusantara; penjaga bumi yang menentukan masa depan kita.
Dengan kedudukan petani yang sangat agung ini, negara perlu meneguhkan kembali semangat “tanah untuk rakyat” sebagaimana diamanatkan UUPA/1960.
Reforma agraria bukan sekadar warisan sejarah, tetapi kunci bagi masa depan pangan dan keadilan sosial.
Dengan menjunjung petani, kita tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menjaga martabat bangsa.
Kita tidak boleh lupa bahwa petani memberi makan dunia. Jadi “Melupakan cara menggali bumi dan merawat tanah sama artinya dengan melupakan diri kita sendiri.” Demikian kata Mahatma Gandhi. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Menjaga Kebenaran Informasi, Merawat Mata Air Demokrasi |
|
|---|
| Opini: Iman yang Terkoneksi- Menggugat Kesenjangan Digital dan Spiritual di NTT |
|
|---|
| Opini: Kebangkitan yang Memberi Pengharapan di Tengah Luka NTT |
|
|---|
| Opini: Menjahit Ulang Sekolah |
|
|---|
| Opini: Dilema Strategis Bank NTT di Tengah Tekanan Fiskal, KUB atau Perseroda? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Zefirinus-Kada-Lewoema1.jpg)