Breaking News
Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: Festival dan Pameran Meriah, Ekonomi Bertuah

Penyelenggaraan festival dan pameran tersebut tidak semata-mata bersifat hiburan atau seremonial, melainkan juga memiliki tujuan strategis. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DIAH M SARI
Diah Mekita Sari 

Oleh: Diah Mekita Sari
Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Tahun 2025 menjadi periode yang cukup semarak bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Sepanjang tahun, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota serta berbagai pihak menyelenggarakan berbagai festival dan pameran yang menampilkan kekayaan budaya, kreativitas, dan potensi ekonomi daerah. 

Beberapa di antaranya adalah Festival Seni dan Budaya Ende pada Juni, dan Kupang Exotic Festival 2025 di Kota Kupang pada akhir bulan yang sama. 

Pada bulan Juli, Humba Sandalwood Festival di Sumba Timur memperkenalkan keindahan alam sekaligus produk khas daerah. 

Baca juga: Opini: Luka Dunia Hari Ini dan Tips Penyembuhannya

Selanjutnya, di bulan Agustus terselenggara Festival Terbaik Untuk Rakyat 2025 di Taman Nostalgia Kupang, Festival Golo Koe di Labuan Bajo, Wololobo Festival di Ngada, serta Pameran Pembangunan dan Kirab Budaya NTT BaGaYa 2025 di Kota Kupang yang menampilkan ratusan stan instansi pemerintah, TNI/Polri, perbankan, perguruan tinggi, serta sekitar 155 UMKM. 

Selain berbagai festival dan pameran di atas, masih banyak festival dan pameran di NTT pada tahun 2025 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Penyelenggaraan festival dan pameran tersebut tidak semata-mata bersifat hiburan atau seremonial, melainkan juga memiliki tujuan strategis. 

Salah satu alasan utama adalah untuk menggerakkan roda perekonomian lokal. 

Aktivitas masyarakat yang hadir, membeli produk UMKM, menginap di hotel, menikmati kuliner, serta menggunakan jasa transportasi menciptakan perputaran uang di daerah. 

Gubernur NTT menyatakan Pameran Pembangunan dan Kirab Budaya NTT BaGaYa 2025 bulan Agustus lalu memutar roda perekonomian sebesar 3 miliar rupiah. 

Hal ini memberikan bukti bahwa kegiatan ekonomi yang dipicu oleh sebuah pameran mampu memberi dampak positif bagi pelaku usaha.

Sektor yang terdampak dari kegiatan festival dan pameran cukup beragam. 

Pertama, UMKM dan industri kecil yang mendapat ruang utama dalam pameran untuk memasarkan produk kerajinan tangan, kuliner, hingga produk fashion berbasis tenun ikat. 

Kedua, sektor pariwisata dan budaya melalui atraksi seni, tarian, dan kirab budaya yang menarik kunjungan wisatawan. 

Ketiga, sektor perbankan dan layanan keuangan digital karena dengan adanya festival dan pameran yang mendorong pemanfaatan transaksi non-tunai dengan QRIS maupun aplikasi pembayaran lain. 

Keempat, sektor jasa perusahaan dan transportasi yang meliputi penyedia panggung, dekorasi, transportasi, hingga keamanan. 

Kelima, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang memperoleh tambahan permintaan akibat meningkatnya kunjungan wisatawan dan peserta festival. 

Keenam, sektor perdagangan yang mendukung berlangsungnya pelaksanaan festival dan pameran. 

Ketujuh, sektor jasa lainnya yang menyediakan berbagai produk, seperti jasa persewaan baju adat, jasa salon kecantikan, dll. 

Terakhir, sektor informasi dan komunikasi yang berperan dalam liputan, promosi, dan dokumentasi acara. 

Efek Pengganda

Keterkaitan antar-sektor ini dapat dipahami melalui Tabel Input-Output (I-O) yang menjelaskan hubungan saling ketergantungan antar-lapangan usaha dalam perekonomian suatu daerah. 

Analisis multiplier dalam Tabel I-O menunjukkan bahwa guncangan atau shock positif di satu sektor dapat menciptakan efek pengganda pada sektor lainnya. 

Dari tabel I-O dapat diketahui Indeks Daya Penyebaran (IDP) dan Indeks Derajat Kepekaan (IDK). 

IDP sendiri menunjukkan besarnya output domestik yang dihasilkan oleh seluruh sektor ekonomi sebagai dampak kenaikan permintaan akhir dari sektor tertentu. 

Sementara itu, IDK menunjukkan dampak yang disebabkan oleh adanya pengaruh eksternal terhadap suatu sektor yang pada akhirnya akan berimbas pada perubahan kepada sektor-sektor lain. 

Melalui analisis tabel I-O, dapat dilihat bahwa peningkatan permintaan di pameran dan festival tidak hanya berdampak pada sektor tersebut, melainkan dapat menggerakkan sektor-sektor lain yang terkait.

Lonjakan penjualan industri UMKM misalnya, tidak hanya memberikan keuntungan kepada pelaku usaha, tetapi juga dapat meningkatkan aktivitas pada sektor perdagangan dan transportasi yang mengurus distribusi barang. 

Permintaan penyediaan makan minum dalam festival dan pameran dapat mendorong sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai penyedia bahan baku. 

Peningkatan okupansi hotel juga dapat berimbas pada peningkatan pada sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perdagangan sebagai penyedia bahan baku. 

Bahkan peningkatan transaksi digital melalui QRIS bukan hanya memperkuat sektor perbankan melainkan juga sektor informasi dan komunikasi yang menopang sistem pembayaran.

Dengan demikian, festival dan pameran memiliki kemampuan untuk menciptakan efek pengganda yang luas. 

Sebuah kegiatan yang semula hanya dipandang sebagai agenda budaya dan pariwisata ternyata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor. 

Festival dan pameran dapat dipandang sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi daerah dengan dampak yang berantai.

Menuju Dampak Ekonomi yang Berkelanjutan

Meski demikian, terdapat catatan penting yang perlu diperhatikan. Upaya peningkatan perekonomian daerah melalui festival dan pameran sangat positif, namun tidak seharusnya hanya berfokus pada peningkatan pengeluaran masyarakat. 

Konsumsi masyarakat yang tinggi saat festival cenderung bersifat sementara. 

Apabila tidak diikuti strategi lanjutan, dampak ekonomi yang muncul hanya berlangsung pada saat kegiatan. 

Oleh sebab itu, perhatian yang sama penting perlu diberikan pada peningkatan pendapatan masyarakat agar roda ekonomi yang berputar menjadi lebih besar serta diharapkan dapat berkelanjutan.

Beberapa langkah dapat dipertimbangkan untuk mendukung hal tersebut. 

Pertama, peningkatan kapasitas UMKM melalui pelatihan, pendampingan, dan akses permodalan, sehingga kualitas produk dapat bersaing dalam jangka panjang. 

Kedua, mendorong hilirisasi produk lokal sehingga nilai tambah dari bahan baku yang digunakan dalam usaha dapat dinikmati oleh masyarakat NTT. 

Ketiga, memperluas akses pasar melalui digitalisasi dan platform daring sehingga produk-produk lokal dapat dijual sepanjang tahun, tidak terbatas pada momentum festival dan pameran semata.

Apabila langkah-langkah ini diimplementasikan, maka multiplier effect dari festival dan pameran dapat berlangsung lebih panjang. 

Festival dan pameran akan berfungsi sebagai pemicu awal, sementara pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan tercapai melalui peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat.

Festival dan pameran yang diselenggarakan di NTT pada tahun 2025 patut diapresiasi sebagai strategi pemerintah daerah untuk menggerakkan perekonomian. 

Melalui perspektif Tabel Input-Output, terlihat bahwa kegiatan ini mampu menghasilkan efek pengganda yang meluas ke berbagai lapangan usaha. 

Meski demikian, keberhasilan tersebut hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai capaian sesaat. 

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa momentum ini dapat dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Dengan menjaga keseimbangan peningkatan pengeluaran dan peningkatan pendapatan, maka diharapkan pembangunan ekonomi di NTT dapat berkembang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved