Opini
Opini: Luka Dunia Hari Ini dan Tips Penyembuhannya
Maka luka yang dialami oleh kaum minoritas di Republik ini tidak akan pernah sembuh hingga selamanya.
Oleh: Yohanes Mau
Staf Guru di SMA Katolik St. Josef Freinademetz (SMAFREND) Tambolaka- Sumba Barat Daya
POS-KUPANG.COM - "God has from the beginning integrated himself with the poor by a covenant, it is covenanted reality, we recognized as operative in the humanity of Jesus. This is the right meaning of incarnation, the God and the poor are one. Christ is defined as God's covenant with the poor."
Refleksi yang sangat menarik dari teolog Aloysius Pieris yang tertulis rapi dalam bukunya God’s reign For The Poor, 1993:56).
Terjemahan Indonesianya kira-kira seperti ini, “Sejak awal, Allah telah menyatukan diri-Nya dengan kaum miskin melalui sebuah perjanjian; itu adalah realitas perjanjian, yang kita kenali sebagai sesuatu yang bekerja dalam kemanusiaan Yesus.
Inilah makna yang benar dari inkarnasi, yaitu Allah dan kaum miskin adalah satu. Kristus didefinisikan sebagai perjanjian Allah dengan kaum miskin."
Betapa indah dan mendalamnya refleksi dari teolog Aloysius Pieris ini. Secara sederhana dapat saya menganalisanya bahwa ia dengan tegas menekankan betapa pentingnya liberasi dalam menyembuhkan luka-luka dunia hari ini yang enggan sembuh.
Baca juga: Opini: Dari Sri Mulyani ke Purbaya, Menjaga Jangkar Menata Arah
Lantas muncul pertanyaan, “Luka-luka macam apa yang enggan sembuh itu? Berikut beberapa luka yang terjangkau oleh indraku selama ini. Luka penindasan politik, sosial, ekonomi, penjajahan, dan diskriminasi atau ketidakadilan.
Luka-luka itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, luka penindasan politik, luka penindasan politik adalah realitas dimana orang-orang minus nalar dan gagal paham berjuang dengan seluruh kekuatannya untuk tampil sebagai tokoh politik yang menepuk dada ingin menjadi pemimpin yang mau bersuara atas nama rakyat kecil yang tak mampu bersuara selama ini.
Apa pun cara dapat dihalalkan demi menggapai hasratnya. Sehingga tidaklah heran selama ini banyak rakyat kecil yang menjadi korban penipuan akibat janji-janji manis yang diberikan menjelang pesta demokrasi oleh kaum elite politik tak terelisasi.
Praktik politik macam ini sudah menjadi luka budaya politik (The wound of the politic culture).
Saya melihat ini sebagai luka budaya politik yang diwariskan secara turun-temurun.
Kedua, luka sosial adalah luka yang tercipta secara otomatis oleh adanya status sosial yang terstruktur rapi dan diwariskan secara turun-temurun oleh generasi pendahulu dan masih dilestarikan hingga hari ini.
Di sini kelompok yang memiliki status sosialnya paling atas tetap tampil superior dan kelompok yang masuk dalam status sosial paling rendah sebagai sasaran obyek korban penindasan dari kelompok status sosial tertinggi.
Sehingga di sini nampak jelas yang kuat kuasa tetap berkuasa dan yang kecil dan lemah tetap mengalami penindasan.
Ketiga, luka ekonomi. Luka ekonomi disebabkan oleh adanya krisis dan pandemi covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yohanes-Mau-guru-SBD.jpg)