Opini
Opini: Parlemen Bermartabat, dari Pencitraan ke Kompetensi
Fungsi ideal parpol adalah melakukan rekrutmen, seleksi, dan pendidikan politik untuk melahirkan kader-kader terbaiknya.
Pilar Rekrutmen
Meski penting, syarat formal seperti gelar S2 dan TOEFL 500 bukanlah jaminan. Gelar bisa saja dibeli, skor TOEFL bisa dilatih secara instan.
Poin terpenting adalah membangun sebuah sistem rekrutmen yang komprehensif yang mampu menyaring calon berdasarkan tiga pilar utama: kompetensi, karakter, dan komitmen.
Pertama, Kompetensi. Seorang caleg idealnya bukan hanya berpendidikan tinggi, tetapi juga memiliki keahlian spesifik yang relevan dengan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan.
Parpol perlu secara aktif merekrut dan mengkader para profesional, akademisi, praktisi, dan aktivis masyarakat yang telah terbukti dedikasinya di bidangnya masing-masing.
Seorang pakar ekonomi akan paham betul dampak sebuah UU perpajakan. Seorang ahli pendidikan akan mampu merancang RUU yang membawa kemajuan bagi sekolah-sekolah di pelosok.
Seorang yang memahami kondisi masyarakat akar rumput akan memastikan bahwa setiap kebijakan tidak terlepas dari realitas sehari-hari.
Kedua, Karakter. Ini adalah domain yang paling sulit diukur namun paling menentukan.
Seberapa pun pintarnya seseorang, jika karakternya lemah dan integritasnya dipertanyakan, ia akan menjadi beban bagi bangsa. Termasuk tidak peka dengan kehidupan masyarakat, misalnya jika menuntut kenaikan tunjangan saat konstiuennya kesulitan membeli kebutuhan pokok.
Proses rekrutmen harus memasukkan “assessment” psikologis yang ketat, “track record” kehidupan publik dan privat.
Juga pemeriksaan latar belakang yang independen untuk menyaring para kandidat yang berpotensi korup atau hanya mencari kekuasaan.
Karakter negarawan ditandai kesederhanaan, keberpihakan pada rakyat, dan kesediaan untuk mengabdi.
Ketiga, Komitmen. Komitmen untuk melayani, bukan untuk dilayani. Ini dapat dilihat dari rekam jejak pengabdiannya di masyarakat jauh sebelum ia mencalonkan diri.
Calon yang baik adalah yang telah "membasuh bajunya" dengan keringat kerja nyata, bukan yang tiba-tiba muncul setiap lima tahun sekali saat mendekati pemilu.
Kembali ke Khitah
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.