Timor Tengah Selatan Terkini
Pedagang Sayur di Soe Sebut BBM dan Sembako Naik dan Pendapatannya Terus Menurun
Pedagang sayur di Pasar Inpres Soe, Katarina Talan sebut harga sembako yang terus naik, diikuti harga BBM, namun pendapatan jualannya menurun.
Ringkasan Berita:
- Pedagang sayur Pasar Inpres Soe mengeluhkan kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok, sementara pendapatan terus menurun akibat lemahnya daya beli masyarakat.
- Pedagang terpaksa menjual dengan harga rendah agar dagangan tetap laku, bahkan sering hanya mengejar pengembalian modal.
- Saat pasar ramai, pedagang bisa memperoleh pemasukan Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari, namun saat sepi hanya sekitar Rp100.000.
- Para pedagang berharap harga kebutuhan lebih stabil dan daya beli masyarakat meningkat
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok
POS-KUPANG.COM, SOE - Pedagang sayur di Pasar Inpres Soe, Katarina Talan (42) sebut harga semanko yang terus naik, diikuti harga BBM, namun pendapatan dari jualannya terus menurun.
Katarina yang ditemui di Pasar Inpres Soe, pada Rabu (10/6/2026), duduk bersama adiknya Petronela Talan (40) bersama seorang pedagang lainnya.
Kondisi pasar Inpres pukul 17.30 sudah tampak sepi, namun mereka belum membereskan jualan mereka dan kembali rumah. Mereka memilih menjajakan jualan lebih lama, sembari menunggu rezeki yang datang di waktu jelang malam tersebut.
Kakak beradik ini berasal dari Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat. Keduanya menjual sayur di Pasar Inpres, untuk membantu perekonomian keluarga. Katarina dan Petronela tidak menanam sayur, mereka membeli dari petani kemudian menjual kembali.
Dalam wawancara, Katarina Talan mengungkapkan kondisi sulit yang dihadapi. Daya beli yang menurun ditambah cuaca tak menentu semakin menyulitkan dirinya mendapatkan penghasilan.
"Jadi harga BBM naik ini, kita sayur tetap harga dibawah jadi memang kita setengah mati. Harga barang semakin meningkat tetapi kita jualan pendapatan menurun. Apalagi kalau hujan begini kita jual jarang ada yang beli," jelasnya sambil mengunyah sirih pinang.
Terkadang ia ingin menaikan harga sayur namun imbasnya sayur tersebut tidak laku terjual. Sehingga ia lebih memilih mengembalikan modal saja tanpa berharap untung besar.
"Setengah mati, harga BBM semakin meningkat kita punya sayur semakin tidak ada harga. Apalagi kita ada utang di koperasi harian, itu setengah mati. Saya ambil karena kita kasih sekolah anak jadi," jelasnya.
Ia memiliki tiga orang anak, dua anaknya telah lulus SMA dan sisa satu yang bersekolah. Dari ketiganya juga, salah satu anaknya telah bekerja di Jakarta untuk mencari nasip yang baik.
Ia mengaku seringkali membeli beras sekilo hanya untuk tetap bisa makan.
Sedangkan Petronela, ia istri seorang penjahit. Ia berjualan persis didepan tempat jahit suaminya. Ia memiliki empat orang anak. Anaknya yang sulung telah lulus SMA, tiga lainnya masih mengenyam pendidikan dasar.
"Untuk ekonomi sekarang kami terdampak sekali. Kita punya jualan kalau sepi begini, kita pulang mau belanja, kalau harga naik terus, kita mau bagaimana," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa pendapatan mereka tergantung kondisi pasar. kalau ramai sehari bisa dapatkan pemasukan Rp 200.000 hingga Rp 300.000. kalau sepi itu ia sudah bersyukur juga mendapatkan pemasukan Rp 100.000.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pedagang-Sayur-di-Soe-Sebut-BBM-dan-Sembako-Naik-dan-Pendapatannya-Terus-Menurun.jpg)