Minggu, 26 April 2026

Obituari

Obituari: Pater Bombon Telah Pergi

Pater Klaus lahir pada 6 Desember 1948 di Theley, Distrik Sankt Wendel, Negara Bagian Saarland, Jerman. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-KIRIMAN JOHN MAI
Pater Nikolaus Naumann, SVD 

Sebagai imam misionaris, Pater Klaus juga menjadi pelaku nyata dalam membangun toleransi antarumat beragama. 

Ia bersahabat dekat dengan tokoh-tokoh Muslim dan Protestan, serta aktif dalam kegiatan sosial lintas iman. 

Ia tidak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi menjalankannya dalam tindakan nyata: dalam gotong royong, persahabatan, dan kesetiaan melayani tanpa melihat latar belakang.

Pecinta Olahraga

Hal tak kalah dikenang adalah kecintaannya terhadap sepak bola. Pater Klaus tidak hanya menjadi pendukung, tetapi juga melatih kesebelasan sepak bola Kabupaten Sikka—sebuah keterlibatan yang jarang dilakukan seorang imam. 

Ia dikenal sebagai pelatih dan konsultan teknis yang disiplin dan membangun. Kecintaannya pada olahraga ini juga diwujudkan dalam penyelenggaraan Klaus Naumann Cup, sebuah turnamen antarpelajar SMA di Maumere. 

Bagi beliau, sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah, tapi sarana pembentukan karakter anak muda: kerja sama, sportivitas, dan semangat juang.

Di rumah, ia dikenal sebagai sosok tegas yang penuh kasih. Tegurannya bisa terdengar keras, tetapi penuh perhatian. Ia pernah berkata, “Kau bodoh!”—sebuah kalimat yang menohok, tapi di baliknya selalu ada keprihatinan dan cinta. 

Setelah menegur, ia sering terdiam lama, bukan karena marah, tetapi karena menyesal. 

Ia tidak membiarkan orang menanggung kesalahan sendiri. Ia selalu hadir, bahkan dalam diamnya.

Bagi Pater Klaus, menjadi imam bukan soal liturgi megah atau khotbah retoris.

Menjadi imam adalah perkara hati: hadir bagi siapa saja, setia dalam hal-hal kecil, dan mencintai tanpa pamrih. Ia tidak pernah mengejar popularitas, tetapi justru karena itu ia dicintai begitu luas.

Pulang dan tidak pernah kembali

Menjelang akhir hidupnya, Pater Klaus merencanakan cuti rutin ke Jerman. Namun kecelakaan di Denpasar memperburuk kondisi kesehatannya yang memang sudah lemah akibat diabetes dan riwayat stroke. 

Ia tetap berangkat ke tanah kelahirannya, dengan harapan bisa pulih. Tapi cuti itu menjadi perpisahan terakhir. Setelah 50 tahun berkarya di Indonesia, ia menghembuskan napas terakhir dalam damai.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved