TTU Terkini

Pemuda Teritori IV Klasis TTU Hadiri Ibadah Gabungan di Gedung Kebaktian Jemaat Paulus Wini 

Ibadah gabungan para pemuda diawali dengan ibadah bersama yang dipimpin Pdt. Hendrina Susanti Tamelab.

Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG.COM/DIONISIUS REBON 
IBADAH PEMUDA - Pose bersama pemuda Teritori IV Klasis Timor Tengah Utara (TTU) melaksanakan kegiatan ibadah gabungan di gedung kebaktian Jemaat Paulus Wini, Desa Humusu Wini, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten TTU. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Puluhan pemuda Teritori IV Klasis Timor Tengah Utara (TTU) melaksanakan kegiatan ibadah gabungan di gedung kebaktian Jemaat Paulus Wini, Desa Humusu Wini, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten TTU, NTT. Ibadah gabungan ini merupakan perpaduan dari program Jemaat Paulus Wini.

Kegiatan tersebut yakni kegiatan Peningkatan Kapasitas Kaum Muda (Pikamuda) Jemaat Paulus Wini (JPW) tahun pelayanan 2025. Turut ambil bagian dalam kesempatan itu, Ketua Majelis Jemaat Paulus Wini, Pdt. Pdt. Eyrene M. Liuffeto Tameno, Ketua Majelis Jemaat Ebenhezer Tuamese, Pdt.Gerson Lette, Ketua Majelis Jemaat Pantura, Pdt. Nara E. Kale Moy dan Ketua Majelis Jemaat Bermata Biboki Anleu, Pdt. Hendrina Susanti Tamelab. 

Ibadah gabungan para pemuda diawali dengan ibadah bersama yang dipimpin Pdt. Hendrina Susanti Tamelab. Setelah pelaksanaan ibadah, acara dilanjutkan pembekalan bagi para pemuda melalui materi pertama tentang kepemimpinan yang dibawakan oleh Pdt. Gerson Lette dan materi kedua tentang metode studi Alkitab oleh Pdt. Eyrene M. Liuffeto Tameno

Pdt. Hendrina mengatakan, 3 hal yang menyebabkan para pemuda Kristen tidak berdampak pertama, para pemuda melupakan identitas mereka sebagai pemuda Kristen. 

Kedua, para pemuda Kristen lebih muda dipengaruhi oleh lingkungan daripada memberikan pengaruh positif terhadap lingkungan. Dan penyebab yang terakhir, para pemuda merasa tidak pantas atau tidak layak.

Pdt. Gerson menjelaskan, orang muda perlu belajar tentang kepemimpinan. Hal ini disebabkan oleh peranan penting dari generasi muda sebagai agen perubahan dan harapan bagi gereja dan masyarakat. 

Dalam konteks Kristen, kata Pdt. Gerson , kepemimpinan harus dilandasi oleh teladan Yesus Kristus, yang menekankan kasih, kerendahan hati, pelayanan, kejujuran, dan keadilan. Memahami dan menjalani kepemimpinan menurut semangat Yesus Kristus dapat berdampak positif dalam kehidupan sosial dan rohani.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama tokoh Nabi Musa memberikan teladan penting tentang sosok pemimpin yang selalu bersama pada Tuhan. Relasi yang intim dengan Tuhan menjadikan Nabi Musa berhasil dalam tugas pelayanan. Kepemimpinan dalam kehidupan Kristen sejati mesti mencerminkan totalitas integritas.

Pendeta Gerson menjelaskan, dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, Yesus Kristus memberikan teladan tentang sosok pemimpin sejati. Kepemimpinan yang diajarkan Yesus Kristus merupakan kepemimpinan bukan dalam konteks otoritas duniawi, melainkan melalui kasih, pengorbanan, dan pelayanan.

Yesus Kristus memberikan teladan bahwa seorang pemimpin sejati adalah sosok gembala yang rela berkorban, pelayan yang rendah hati, dan teladan dalam perilaku, iman, dan kasih.

"Yesus mengajarkan pemimpin yang melayani, berfokus pada kebutuhan orang lain, mengutamakan kehendak Allah, dan memuliakan Tuhan melalui hidup dan perbuatan. Pemimpin seperti ini harus memiliki hati yang melayani (karakter yang tulus dan tidak egois), serta tangan yang melayani (tindakan nyata yang menunjukkan kasih, integritas, dan tanggung jawab)," ujarnya.

Hakikat pemimpin yang menghidupi semangat Kristen sejati mesti memiliki karakter kasih tanpa pamrih, tanggung jawab, kesetiaan kepada firman Tuhan, kerendahan hati, integritas, dan ketekunan. Pemimpin wajib menghindari sikap tidak jujur, kurang empati dan egois.

Ketua Majelis Jemaat Paulus Wini, Pdt. Eyrene M. Liuffeto Tameno pada kesempatan itu juga menuturkan, gereja memiliki tugas dan tanggung jawab besar mempersiapkan masyarakat dan para pemuda menjadi pemimpin gereja dan masyarakat.

Hal ini untuk menghadapi tantangan zaman yang kian hari makin mengkerdilkan pertumbuhan iman kaum muda dengan berbagai godaan zaman ini yang juga mengikis identitas sebagai pemuda-pemudi gereja. Godaan tersebut mencakup fashion, pergaulan, gadget, teknologi dan lain sebagainya.

Pdt. Eyrene mengapresiasi respon baik dari seluruh pendeta dan para pemuda/i se-teritori IV menghadiri kegiatan tersebut. (bbr)

 

 

 

Baca berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE.NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved