Senin, 18 Mei 2026

Opini

Opini: Analgesik Politik, Strategi Politik Peralihan

Rasa sakit kehilangan semua referensi terhadap kekuasaan dan dominasi. Hal ini menjadi tidak lagi dipolitisasi dan menjadi masalah medis.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Melki Deni, S. Fil 

Oleh: Melki Deni, S.Fil
Mahasiswa Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol

POS-KUPANG.COM - Kelaparan, peperangan, pandemi, dan perdagangan manusia adalah tema-tema aktual atas masalah kemanusiaan kita sepanjang zaman. 

Semuanya itu sengaja diciptakan karena mengandung nilai lebih di mata kapitalis. 

Penderitaan masyarakat miskin diubah menjadi kesejahteraan bagi kaum kapitalis karena mereka bisa mengakses semua yang yang mereka butuhkan, termasuk kesehatan dan menunda kematian. 

Karena itu peperangan, kelaparan, pandemi dan perdagangan manusia mesti dilihat dalam kaitannya dengan mega proyek dari bisnis senjata internasional, virus, prostitusi multinasional, dan akumulasi atas kelaparan dan penderitaan masyarakat miskin di kampung global.

Masyarakat modern menderita fobia terhadap rasa sakit dan penderitaan. Berbeda dengan tubuh yang terlatih, tubuh yang hedonistik, yang menikmati dirinya sendiri tanpa orientasi apa pun terhadap tujuan yang lebih tinggi, mengembangkan sikap penolakan terhadap rasa sakit. 

Obat-obatan anti rasa sakit diproduksi dan dipromosi sebagai suplemen yang layak dikonsumsi karena dinilai bagus untuk kesehatan meskipuan pengonsumsi tidak melakukan uji laboratorium.

Perintah percepatan dan persaingan pasar industri menganjurkan agar para pekerja dan sekaligus konsumen mengonsumsi berbagai jenis obat supaya tidak lagi merasakan cekaman sakit, penyakit dan beban pikiran. 

Dalam La sociedad paliativa El dolor de hoy, (Barcelona: Herder, 4.ª edición, 2022), filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, mengkritik bagaimana kepositifan yang berlebihan dan kebutuhan yang kuat untuk selalu bahagia memaksa kita untuk menghindari tanda-tanda penderitaan dan membawa kita ke keadaan anestesi permanen. 

Mereka yang menderita fobia berusaha menghindari konflik, dan penderitaan.

Subjek kinerja saat ini secara radikal berbeda dari subjek disiplin. Dalam masyarakat kinerja neoliberal, hal-hal negatif seperti keharusan, larangan atau hukuman memberi jalan kepada hal-hal positif seperti motivasi, optimalisasi diri atau realisasi diri. Ruang disiplin digantikan oleh area kesehatan. 

Rasa sakit kehilangan semua referensi terhadap kekuasaan dan dominasi. Hal ini menjadi tidak lagi dipolitisasi dan menjadi masalah medis.

Kepositifan dalam kebahagiaan mengalahkan kenegatifan dalam kesakitan. Sebagai modal emosional yang positif, kebahagiaan harus menyediakan kapasitas kinerja yang tidak terputus. 

Penguasa menciptakan instrumen kebahagiaan neoliberal sangat efektif, karena penguasa yang berkuasa kemudian mengelola dengan sangat baik tanpa perlu berbuat terlalu banyak. 

Orang yang tunduk bahkan tidak menyadari kondisi ketundukan dan ketertindasannya. Ia tampak sangat bebas, padahal modal dan kapital yang bebas. 

Namun tanpa perlu adanya paksaan dan tekanan dari luar, ia mengeksploitasi dirinya sendiri dengan sukarela, dengan keyakinan bahwa ia sedang memuaskan dirinya sendiri. 

Kebebasan di sini tidak ditekan, tetapi dieksploitasi oleh subjek sendiri. Keharusan untuk berbahagia menciptakan tekanan yang lebih dahsyat daripada keharusan untuk taat.

Byung-Chul Han menunjukkan bahwa fobia juga terjadi di dunia politik. Politik represi dan kekerasan digalakkan agar para warga masyarakat menyetujui, sepakat dan tidak mengkritik kebijakan politik. 

Kebijakan politik dengan praktik politk peralihan isu dan represi dirampung ke dalam rona paliatif, selanjutnya menghilangkan seluruh kevitalannya. 

Tidak adanya kebijakan alternatif dalam politik, bagi Byung-Chul Han, merupakan suatu analgesik politik: alih-alih berdebat dan bertarung ide dengan mengajukan argumen-argumen yang lebih baik, justru menghasilkan tekanan dari sistem. 

Ini dipropaganda dan ditekankan oleh gerakan pascademokrasi, yang merupakan sebuah wajah demokrasi paliatif.

Bagi Byung-Chul Han, “politik paliatif tidak mampu memiliki visi atau melakukan reformasi mendalam yang mungkin menyakitkan”. 

Politik paliatif ingin mendorong analgesik yang memiliki efek sementara dan tidak melakukan apa-apa selain menutupi disfungsi dan ketidaksetaraan sistematis. 

Politik paliatif tidak memiliki keberanian untuk menghadapi rasa sakit politik, dan memvaksin virus korupsi, dan nepotisme oligark neoliberal.

Dalam rezim neoliberal, kekuasaan juga mengambil bentuk positif. Rezim politik menciptakan fobia politik lewat penyebaran informasi hoaks, peralihan isu politik (politik peralihan), dan pengakuan secara terbuka atas neoliberalisme sebagai preferensi politik demi perkembangan dan kemajuan negara—yang sebetulnya, bagi perkembangan dan kemajuan bisnis oligarkinya.

Rezim politik beroperasi dengan cara yang menggoda dan permisif. Karena menyamar sebagai kebebasan, ia lebih tampak terselubung daripada kekuasaan disiplin yang represif. 

Pengawasan juga mengambil bentuk yang elegan. Kita terus-menerus didorong untuk mengomunikasikan kebutuhan, keinginan, dan preferensi kita. 

Namun komunikasi total selalu dibarengi pengawasan total, kontrol seluruh konsolidasi Gerakan demokratis, dan masyarakat transparansi berakhir menjadi pengawasan panoptik.

Kebebasan dan pengawasan saat ini tidak bisa dibedakan, karena dua-duanya menggunakan bahasa dan perintah disiplin. 

Jadi kebebasan sebenarnya tidak ada karena ruang kebebasan diubah menjadi ruang produksi, yang darinya masyarakat mengonsumsi sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya di dalam ruang hidup yang sudah dicaplok.

Instrumen kebahagiaan neoliberal mengalihkan perhatian kita dari situasi dominasi yang sudah mapan, dan memaksa kita untuk melakukan introspeksi. 

Hal ini membuktikan bahwa setiap orang hanya fokus pada diri mereka sendiri, pada psikologi mereka sendiri, alih-alih mempertanyakan situasi sosial, ekonomi, dan politik secara kritis. 

Persoalan ekonomi-politik yang seharusnya menjadi tanggung jawab Negara justru diprivatisasi dan diasumsi sebagai masalah psikologis personal atau fenomena patologi sosial yang tidak bisa diintervensi oleh poltik.

Bagi rezim kekuasaan, yang perlu diperbaiki bukanlah situasi sosial, melainkan kinerja. 

Tuntutan untuk mengoptimalkan kinerja, yang pada kenyataannya memaksanya menyesuaikan diri dengan relasi kekuasaan yang stabil, menyembunyikan ketidakadilan sosial, dan problem politis yang serius.

Keinginan untuk melawan rasa sakit dengan segala cara juga membuat kita lupa bahwa rasa sakit ditularkan secara sosial, ekonomi dan politik. 

Rasa sakit mencerminkan ketidakseimbangan sosial, ekonomi, dan politik yang memengaruhi kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan masyarakat. 

Obat penghilang rasa sakit yang diresepkan secara besar-besaran menutupi situasi sosial dan problema politik yang menyebabkan rasa sakit.

Membatasi penanganan nyeri hanya pada ranah pengobatan dan farmasi sesungguhnya mencegah nyeri menjadi bahasa dan bahkan kritik atas situasi sosial dan politik. 

Dengan demikian, rasa sakit kehilangan karakter objeknya, dan bahkan karakter sosial dan politiknya.

Masyarakat paliatif mengimunisasi dirinya sendiri terhadap kritik dengan cara menghilangkan kepekaannya melalui pengobatan atau menimbulkan kebosanan dengan bantuan media. 

Media sosial juga bertindak sebagai obat bius. Anestesi sosial yang permanen mencegah pengetahuan dan refleksi serta menekan kebenaran dengan akumulasi melalui kapitalisasi informasi, berita hoaks, propaganda komputasional, meme, foto dan video provokatif di media sosial yang turut menciptakan rasa bosan agar masyarakat tidak serius memperhatikan dan mengkritik rezim kekuasaan.

Kebohongan demi kebohongan dipropagandakan dan disebarluaskan sampai diakui sebagai kebenaran umum.

Dalam Dialektika Negatif-nya, T. L. W. Adorno menulis: “Kebutuhan untuk menyuarakan penderitaan merupakan syarat dari semua kebenaran.  Sebab penderitaan adalah objektivitas yang membebani subjek; Apa yang dialaminya sebagai bagian paling subjektifnya, ekspresinya, dimediasi secara objektif.” 

Persoalannya adalah semua media untuk menyuarakan penderitaan, aspirasi politik, dan kritik kebijakan publik dikontrol dan diawasi dengan teknologi canggih dan dengan keamanan negara yang ketat lagi beringas.

Instrumen kebahagiaan neoliberal mengisolasi manusia dan menyebabkan depolitisasi masyarakat, dan hilangnya solidaritas sosial. 

Setiap orang harus mencari dan menjaga kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan menjadi urusan pribadi. 

Penderitaan juga diartikan sebagai akibat dari kegagalan diri sendiri. Oleh karena itu, yang kita miliki bukanlah revolusi, tetapi depresi dan represi dari luar, dan juga dari dalam sebagai ekspresi murka dan muak terhadap situasi sosial dan politik yang menyimpang.

Sementara kita sia-sia berusaha untuk menyembuhkan jiwa kita sendiri, kita melupakan situasi kolektif yang menyebabkan ketidakseimbangan sosial dan politik.

Saat kita merasa dirundung kecemasan dan rasa tidak aman, kita tidak mempersoalkan realitas sosial dan politik, tetapi menyakiti diri kita sendiri. 

Ini bertentangan dengan makna revolusi politik sebagai penderitaan yang dirasakan bersama.

Instrumen kebahagiaan neoliberal memangkasnya sampai ke akar-akarnya. Masyarakat paliatif mendepolitisasi rasa sakit dengan menundukkannya pada perawatan medis dan memprivatisasinya. 

Dengan cara ini, dimensi sosial dan politik kesakitan ditekan dan disingkirkan. 

Nyeri kronis yang dapat diartikan sebagai gejala patologi dari masyarakat paliatif akibat situasi sosial dan kebijakan politik tidak mengajukan protes atau kritik apa pun.

Dalam masyarakat kinerja neoliberal, kelelahan bersifat apolitis sejauh ia merepresentasi kelelahan diri. Itulah gejala subjek narsisisme kinerja yang telah kelelahan. 

Alih-alih membuat orang berasosiasi dalam “kekitaan”, malah mengisolasinya. 

Di sini tentu harus dibedakan dari kelelahan kolektif yang membentuk dan menyatukan suatu komunitas, Negara. Kelelahan diri adalah profilaksis terbaik melawan revolusi. 

Sekali lagi instrumen kebahagiaan neoliberal mengobjektifikasikan kebahagiaan. 

Kebahagiaan lebih dari sekadar kumpulan sensasi positif yang menjanjikan peningkatan kinerja. Ia tidak tunduk pada logika optimasi. 

Hal ini ditandai dengan tidak dapat dihindarinya. Ia memiliki sifat negatif yang melekat.

Dia yang tidak reseptif terhadap rasa sakit politik akan tertutup terhadap kemerdekaan, kebebasan dan kebahagiaan yang mendalam. 

Berbagai jenis penderitaan jatuh seperti angin puyuh salju yang tak berujung pada orang seperti itu, sementara rasa sakit yang paling intens dilepaskan padanya.

Akan tetapi tidak berarti, rezim politik terus menciptakan penderitaan politis dan menggalakan gerakan kematian politis. 

Namun yang saya maksudkan ialah, rezim politik tidak fobia menciptakan rasa sakit atau penderitaan (pemiskinan/sanksi secara hukum) terhadap koruptor, dan pelanggar hukum baik secara normatif, etis, dan moral.

Tindakan kejahatan korupsi tidak bisa dibiarkan bertumbuh, dan menciptakan fobia terhadap politik dalam diri warga negara, tetapi justru sebaliknya, rezim memberikan sanksi terhadap pelaku dan kelompoknya agar mereka mengalam penderitaan fobia terhadap tindakan kejahatan korupsi, nepotisme, dan kolusi.

Hanya dengan kondisi ini, selalu terbuka terhadap rasa sakit politik, dari mana pun asalnya dan ke kedalamannya, kita akan tahu bagaimana bersikap terbuka terhadap jenis kebahagiaan yang paling halus dan luhur, bahkan yang disebabkan dari situasi sosial dan tekanan kebijakan politik sekalipun.

Namun kesejahteraan politis tidak bergantung pada obat anti-rasa nyeri, narkotika, mariyuna, atau analgesik politik. 

Kebahagiaan politis sejatinya terletak pada politik keadilan, kebenaran, kebebasan dan kebahagiaan tanpa terpengaruh oleh individu atau kelompok berkepentingan! (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved