Opini

Opini: Mencoba Berharap pada Kanis-Nasir

Saya menduga, paket ini sangat percaya diri akan memenangkan pertarungan elektoral berdasarkan kalkulasi kuantitas pemilih. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Steph Tupeng Witin,SVD 

Selama ini, tentu Kanis Tuaq lebih paham, potensi pertanian di Lembata lebih diserahkan kepada para petani sendiri yang bekerja secara tradisional dengam kiblat sebatas memenuhi konsumsi sendiri. 

Jika ada kelebihan baru dijual di pasar Pada, Lamahoara dan pasar barter Wulandoni. 

Bupati Kanis Tuaq, tentu bersama dinas terkait mesti mendesain sebuag proyek pertanian berbasis teknologi dalam skala sederhana dulu untuk membongkar otak tradisional para petani kita melihat nilai pasar sebagai sebuah batu loncatan menuju gerbang kesejahteraan. 

Desain proyek pertanian itu mesti keluar dari bingkai egoisme: hanya untuk keluarga, diri tapi mulai menerobos ke ranah sosial: berpikir tentang Lembata secara utuh. 

Orang Paubokol, Uruor, Udak dan Lewuka tidak berpikir bahwa menanam ubi kayu itu hanya untuk dimakan sendiri tapi bisa menjadi sumber hidup orang di wilayah lain. 

Tentu saja, perlu kolaborasi dari berbagai aspek pembangunan. Urat nadinya adalah transportasi dan infrastruktur jalan.  

Gagasan sederhana ini sesungguhnya membingkai harapan akan sebuah masa depan Lembata lebih baik di masa pemerintahan Kanis Tuaq dan Mohamad Nasir. Tipikal kedua pemimpin Lembata ini adalah kesederhanaan. 

Nasir adalah sosok pengusaha yang bergerak dari rakyat jelata dan usahanya melayani rakyat Lembata khususnya rakyat kecil. 

Keterpilihannya bisa dikatakan merepresentasi suara rakyat jelata tanah Lembata. Kesederhanaan itu menyatu dengan rakyat Lembata. 

Maka program pembangunan mesti menyentuh akar hidup rakyat Lembata. Pertanian dan peternakan menjadi prioritas tapi dimensi pembangunan lain seperti pariwisata, perikanan, kelautan, perdagangan, transportasi mesti disinergikan agar berkolaborasi menuju kesuksesan. 

Proses politik dan demokrasi telah memberi legitimasi yang kuat bagi konsolidasi gerak birokrasi dalam sinergi dengan semua elemen untuk bersama-sama menata masa depan tanah Lembata. 

Bupati dan wakil pun mesti memiliki pemahaman yang benar perihal tugas dan wewenang agar tidak terjadi konflik yang memang selama ini seolah menjadi identitas birokrasi Lembata. 

Penulis berharap, Kanis dan Nasir lebih terbuka dengan gagasan dan pikiran lain dari luar dinding birokrasi, meski berbeda dan berlawanan dengan program yang digulirkan. 

Kritik memang kadang menyakitkan tapi hati terbuka akan menjadikan itu amunisi rasional untuk lebih berbenah diri dan menata kebijakan publik. 

Dominasi egoisme: mudah tersinggung, gampang marah, antikritik, doyan melapor dan mengadukan pengkritik kekuasaan, berkelahi di DPRD dan perilaku infantil lain sudah kedaluwarsa dan harus ditinggalkan. Lembata milik semua orang. 

Kanis Tuaq dan Mohamad Nasir adalah pemimpin seluruh rakyat Lembata. Di pundak Anda berdua, rakyat Lembata tetap mencoba menaruh harapannya. *  

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved