Breaking News

Opini

Opini: Mencoba Berharap pada Kanis-Nasir

Saya menduga, paket ini sangat percaya diri akan memenangkan pertarungan elektoral berdasarkan kalkulasi kuantitas pemilih. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Steph Tupeng Witin,SVD 

Gerakan sosial pemberdayaan kritis ini telah lama absen dari ruang publik Lembata. 

Semua aktivis yang dulu bersatu dalam gerakan tolak tambang emas di Kedang-Leragere, perlawanan dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu, gerakan perlawanan terhadap arogansi kekuasaan pemerintahan periode Eliaser Yentji Sunur dan gerakan sosial lainnya menghilang tak tentu rimba dan terserak ke berbagai sudut pergulatan hidup. 

Jiwa aktivis lenyap dalam afiliasi kepada parpol dan terserak-serak ke berbagai sudut ruang hidup. 

Lembata kehilangan “kelompok kritis” yang diikhtiarkan memiliki nurani yang masih terjaga untuk memantau seluruh proses pembangunan dan mengevaluasi kinerja birokrasi selama masa kepemimpinan berjalan. 

Kelompok kritis itu masih sangat kita perlukan, terutama dalam masa kepemimpinan Bupati Kanis Tuaq dan Wakil Bupati Mohamad Nasir yang dipercaya mayoritas rakyat Lembata memimpin saat ini. 

Harapaan Berbasis Kolaborasi

Kita tetap memiliki harapan bahwa duet Kanis Tuaq-Mohamad Nasir akan mengemban amanat rakyat Lembata dengan benar, baik, adil dan jujur. 

Kita mengenal Bupati Kanis Tuaq selama menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lembata. 

Kanis memang orangnya Eliaser Yance Sunur. Itu fakta. Jabatannya “aman” selama dua periode. Meski dalam debat ketika disentil Cabup Mon Odel perihal program strategis selama menjabat, jawaban Kanis Tuaq santai saja: dukung Bupati Yance sukseskan Festival Tiga Gunung (Festival Ile Telo). 

Minimal Kanis bilang kepada Mon Odel bahwa kami dari dinas pertanian dan peternakan sumbang beras, jagung, ubi dan telur ayam (ras dan kampung), babi, kambing, kuda, kerbau dan domba (luba) untuk beri makan seluruh komponen dalam festival itu. 

Itu baru jawaban mantan Kadis yang mengerti substansi pertanyaan. Artinya, Kanis menginformasikan bentuk partisipasinya yang konkret bagi pelaksanaan Festival Tiga Gunung. 

Tapi ya sudahlah, itu pikiran kita yang belum terlintas di dalam pikiran Bapak Kanis Tuaq dalam debat kala itu. 

Mungkin juga saat itu beliau sangat gugup sehingga jawaban sekadarnya saja sampai pernah celaka dalam ungkapan: kambing makan air. Kita berharap pikiran itu “sudah” atau sekurangnya “mulai” terseok-seok dalam genangan kesadaran.  

Penulis sengaja menyentil hal ini karena program prioritas duet Kanis-Nasir adalah pertanian dan peternakan. 

Menurut penulis, kedua program unggulan ini sangat bersentuhan konkret dengan realitas Lembata. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved