Human Interest Story

FEATURE: Martina dan Empat Anaknya Bertahan di Gubuk Reot, Setiap Hari Santap Jagung Goreng 

Kami sehari masak satu kali saja sampai malam. Kalau ada beras kami bisa makan nasi, kalau tidak makan jagung goreng dengan daun ubi.

|
POS KUPANG/ARNOLD WELIANTO 
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Kami sehari masak satu kali saja sampai malam. Kalau ada beras kami bisa makan nasi, kalau tidak makan jagung goreng dengan daun ubi. Yang penting kami bisa makan.

DALAM kondisi hidup serba kekurangan, Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, harus berjuang membesarkan empat dari enam anaknya. 

Martina Bala dan empat anaknya tinggal di sebuah rumah berdinding pelupu bambu yang nyaris roboh. Berlantai tanah dan tanpa fasilitas dasar yang layak.

Suami Martina Bala telah meninggalkan keluarga sejak anak-anaknya masih kecil. Sejak itu, beban sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga harus dipikulnya.

Baca juga: FEATURE: Ziarah Pengharapan di Wilayah Utara Ende, Arak Arca Bunda Maria Keliling 14 Paroki

Kondisi rumah yang ia tempati bersama keempat anaknya, Avila Triyanti (20), Elenterius Ronald (24), Oktavia Mikaela (14), dan Marianus Jenoario (13) sangat memrihatinkan. 

Bangunan berukuran 2,5 x 4 meter tersebut hanya memiliki satu kamar, yang juga difungsikan sebagai tempat penyimpanan pakaian pada kardus-kardus bekas.

Sementara anak sulungnya Gabril Nong Gebi (32) sudah berkeluarga dan tinggal di Kelurahan Wolomarang. Ia bekerja serabutan sebagai penjaga toko dan mencetak batu merah.

Hidup dalam kondisi serba terbatas ini, membuat anak keduanya, Heriyanto Seno (27), harus merantau menjadi buruh sawit di Kalimantan, agar bisa membantu keluarganya.

Bangunan rumah mereka tampak miring dengan dinding pelupu bambu yang sudah lapuk. Tidak ada pintu permanen, hanya dua lembar seng bekas sebagai penutup pintu.

Rumah ini juga belum memiliki meteran listrik; untuk penerangan malam hari, mereka menumpang aliran listrik dari rumah Ketua RT, Fransiskus Nong Efendi.

Baca juga: FEATURE: Mama Olla Warga NTT Kembangkan Pasaran Warisan Tenun NTT di Nunukan Barat 

Di bagian belakang rumah, dapur sederhana berdiri tanpa dinding, beratapkan seng bekas. Untuk mandi dan buang air, mereka harus menumpang ke kamar mandi tetangga.

Kondisi ini telah berlangsung sejak 2019, setelah mereka pindah dari tanah milik seorang dermawan dan relawan kemanusiaan asal Belgia yang akrab disapa Mama Belgi.

Ketika itu, Martina Bala masih bekerja sebagai pengasuh anak di Panti Asuhan milik Mama Belgi di Watublapi pada tahun 2000 sampai April 2004.

Setelahnya pindah sebagai pengasuh anak di Panti Asuhan Stela Maris Nangahure Mei 2005 sampai Juni 2010.

Kemudian pindah ke tanah kebun milik Mama Belgi yang berada di sebelah Jembatan Magesayang pada Juni 2010 sampai Februari 2016.

Baca juga: Briptu AR, Oknum Satlantas Polresta Kupang Kota Minta Korban PS Peluk, Cium Hingga  OS 

Setelah tanah milik Mama Belgi itu dijual ke pihak lain, Martina dan anaknya pindah di tanah kebun milik keluarga dari Februari 2016-pertengahan 2018. 

Dikarenakan bertengkar dengan keluarga tersebut, Mama Martina dan keempat anaknya pindah ke rumah kosong milik warga Kampung Magesayang.

MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5).
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5). (POS KUPANG/ARNOLD WELIANTO )


Tanah berukuran 10 x 20 meter tempat rumah ini berdiri dibeli anak sulung Martina Bala, Heriyanto Seno (27). Hasil jerih payahnya itulah yang memungkinkan mereka membangun rumah meski sangat sederhana.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Martina Bala dan anak-anaknya bekerja serabutan di kebun milik tetangga, menanam jagung dan ubi.

Selain itu, Martina Bala juga menenun kain lipa yang dijual seharga Rp120.00-Rp 300.000 per lembar. Dalam sebulan, ia mampu menghasilkan sekitar 4 lembar. 

Baca juga: Kronologis 2 versi Dugaan Pelecehan Oknum Satlantas Polresta Kupang ke Siswi SMA

Hasil penjualan digunakan untuk membeli benang, pewarna kain, dan kebutuhan pokok seperti beras.

"Kami sehari masak satu kali saja sampai malam. Kalau ada beras kami bisa makan nasi, kalau tidak makan jagung goreng dengan daun ubi. Yang penting kami bisa makan," kata Martina Bala, Senin (5/5).

Anaknya, Ronald, juga bekerja membantu tetangga dengan mengiris pohon lontar untuk nira pembuatan moke.

Ia putus sekolah saat duduk di bangku kelas VIII SMP.

Sementara Oktavia, yang sempat bersekolah kelas VIII di SMP Negeri 01 Waigete, terpaksa berhenti karena keterbatasan ekonomi meski mendapatkan bantuan beasiswa PIP. 

Dua anak laki-laki Mama Martina Bala kadang harus menginap di rumah teman atau rumah keluarga terdekat karena rumah terlalu sempit untuk ditinggali bersama-sama.

MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5).
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5). (POS KUPANG/ARNOLD WELIANTO )


Meski telah terdata sebagai calon penerima bantuan rumah pada Oktober 2023 lalu, hingga kini Mama Martina belum menerima bantuan apa pun dari Pemerintah Desa Hoder.

Martina Bala berharap bantuan rumah benar-benar diberikan kepada keluarga yang membutuhkan, bukan justru kepada warga yang lebih mampu.

Baca juga: LIPSUS: Ombudsman NTT Temukan Pungli  Pengiriman Sapi dari Kupang, TTS, dan TTU

Ketua RT 009, Fransiskus Nong Efendi, membenarkan kondisi mengenaskan yang dialami Mama Martina dan keluarganya. Ia mengaku sudah menyampaikan laporan kepada pihak desa, namun belum ada realisasi.

“Semoga ada perhatian dari Pemkab Sikka. Kami sebagai tetangga hanya bisa membantu sebisanya. Kasihan mereka tidur berdesakan dalam rumah yang nyaris roboh,” ucapnya penuh harap. (arnold welianto)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved