Human Interest Story

FEATURE: Martina dan Empat Anaknya Bertahan di Gubuk Reot, Setiap Hari Santap Jagung Goreng 

Kami sehari masak satu kali saja sampai malam. Kalau ada beras kami bisa makan nasi, kalau tidak makan jagung goreng dengan daun ubi.

|
POS KUPANG/ARNOLD WELIANTO 
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5). 

Kemudian pindah ke tanah kebun milik Mama Belgi yang berada di sebelah Jembatan Magesayang pada Juni 2010 sampai Februari 2016.

Baca juga: Briptu AR, Oknum Satlantas Polresta Kupang Kota Minta Korban PS Peluk, Cium Hingga  OS 

Setelah tanah milik Mama Belgi itu dijual ke pihak lain, Martina dan anaknya pindah di tanah kebun milik keluarga dari Februari 2016-pertengahan 2018. 

Dikarenakan bertengkar dengan keluarga tersebut, Mama Martina dan keempat anaknya pindah ke rumah kosong milik warga Kampung Magesayang.

MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5).
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5). (POS KUPANG/ARNOLD WELIANTO )


Tanah berukuran 10 x 20 meter tempat rumah ini berdiri dibeli anak sulung Martina Bala, Heriyanto Seno (27). Hasil jerih payahnya itulah yang memungkinkan mereka membangun rumah meski sangat sederhana.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Martina Bala dan anak-anaknya bekerja serabutan di kebun milik tetangga, menanam jagung dan ubi.

Selain itu, Martina Bala juga menenun kain lipa yang dijual seharga Rp120.00-Rp 300.000 per lembar. Dalam sebulan, ia mampu menghasilkan sekitar 4 lembar. 

Baca juga: Kronologis 2 versi Dugaan Pelecehan Oknum Satlantas Polresta Kupang ke Siswi SMA

Hasil penjualan digunakan untuk membeli benang, pewarna kain, dan kebutuhan pokok seperti beras.

"Kami sehari masak satu kali saja sampai malam. Kalau ada beras kami bisa makan nasi, kalau tidak makan jagung goreng dengan daun ubi. Yang penting kami bisa makan," kata Martina Bala, Senin (5/5).

Anaknya, Ronald, juga bekerja membantu tetangga dengan mengiris pohon lontar untuk nira pembuatan moke.

Ia putus sekolah saat duduk di bangku kelas VIII SMP.

Sementara Oktavia, yang sempat bersekolah kelas VIII di SMP Negeri 01 Waigete, terpaksa berhenti karena keterbatasan ekonomi meski mendapatkan bantuan beasiswa PIP. 

Dua anak laki-laki Mama Martina Bala kadang harus menginap di rumah teman atau rumah keluarga terdekat karena rumah terlalu sempit untuk ditinggali bersama-sama.

MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5).
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, berada di depan rumahnya, Senin (5/5). (POS KUPANG/ARNOLD WELIANTO )


Meski telah terdata sebagai calon penerima bantuan rumah pada Oktober 2023 lalu, hingga kini Mama Martina belum menerima bantuan apa pun dari Pemerintah Desa Hoder.

Martina Bala berharap bantuan rumah benar-benar diberikan kepada keluarga yang membutuhkan, bukan justru kepada warga yang lebih mampu.

Baca juga: LIPSUS: Ombudsman NTT Temukan Pungli  Pengiriman Sapi dari Kupang, TTS, dan TTU

Ketua RT 009, Fransiskus Nong Efendi, membenarkan kondisi mengenaskan yang dialami Mama Martina dan keluarganya. Ia mengaku sudah menyampaikan laporan kepada pihak desa, namun belum ada realisasi.

“Semoga ada perhatian dari Pemkab Sikka. Kami sebagai tetangga hanya bisa membantu sebisanya. Kasihan mereka tidur berdesakan dalam rumah yang nyaris roboh,” ucapnya penuh harap. (arnold welianto)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved