Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 27 April 2025: Sampah, Luka dan Harapan Kerahiman
Luka ini bukan sekadar luka lingkungan, melainkan luka rohani: luka keserakahan, ketidakpedulian, dan kehilangan rasa hormat terhadap anugerah bumi
Dalam menghadapi gunungan sampah yang seolah tak berkesudahan, atau dalam menghadapi budaya konsumsi yang merusak, suara itu menguatkan kita: jangan takut untuk memulai perubahan, sekecil apa pun.
Injil Yohanes (Yoh. 20:19-31) mengisahkan Yesus yang menunjukkan luka luka-Nya. Luka tidak dihapuskan oleh kebangkitan; luka justru menjadi sumber pengenalan dan kepercayaan.
Paus Fransiskus mengingatkan bahwa krisis ekologi adalah juga krisis moral: “Krisis ekologi adalah cerminan dari krisis moral, spiritual, dan budaya masyarakat modern” (Laudato Si', no. 9).
Dengan demikian, melihat sampah yang menggunung berarti melihat sebuah seruan bagi kita untuk bertobat: bertobat dalam cara kita hidup, dalam cara kita mengonsumsi, dan dalam cara kita merawat dunia ini.
Pada hari Minggu Kerahiman ini, kita diajak untuk menjadi bagian dari pertobatan itu. Mulailah dari hal-hal kecil: memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengajar anak-anak untuk mencintai alam, menghargai setiap ciptaan sebagai saudara.
Kerahiman hari ini bukan hanya sikap hati, tetapi tindakan nyata: memperlakukan bumi ini sebagai rumah, bukan sebagai tempat pembuangan.
Kupang yang bersih, laut yang jernih, dan udara yang segar bukanlah impian kosong. Ia adalah panggilan pertobatan konkret di tengah dunia yang terluka.
Ia menuntut lebih dari sekadar niat baik; ia meminta perubahan hati, perubahan cara hidup, perubahan budaya konsumsi kita sehari-hari.
Pertobatan ekologis, sebagaimana diwartakan Paus Fransiskus dalam Laudato Si' (no. 219), mengajak kita untuk melihat hubungan mendalam antara Allah, sesama manusia, dan seluruh ciptaan — dan untuk bertindak berdasarkan kasih itu.
Hari Minggu Kerahiman ini, kita dipanggil bukan hanya untuk merasakan belas kasih Allah, tetapi juga untuk menjadi saluran kerahiman itu bagi ciptaan-Nya.
Sebagaimana luka-luka Kristus yang menyentuh hati Tomas, luka bumi ini pun mengajak kita untuk tidak hanya melihat, tetapi merasakannya dalam hati kita.
Dalam perbuatan kita, kita membuktikan bahwa kerahiman Allah tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga ekologis dan sosial.
Dunia ini akan berubah ketika kita berani menyentuh luka-luka itu dengan kasih yang hidup dalam tindakan nyata.
Dan, melalui itulah, harapan bagi bumi ini, untuk masa depan yang lebih baik, akan menjadi kenyataan. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Renungan Harian Katolik Kamis 28 Agustus 2025, “Berjaga-jagalah” |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Kamis 28 Agustus 2025, "Siaga untuk Selalu Berbuat Baik" |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Kamis 28 Agustus 2025, "Berjaga-jaga Dalam Kehidupan Sehari-hari" |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Rabu 27 Agustus 2025, Ketulusan Iman, Bukan Sekadar Penampilan |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Rabu 27 Agustus 2025, "Bersaksi Melawan Diri Sendiri" |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.