Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 27 April 2025: Sampah, Luka dan Harapan Kerahiman

Luka ini bukan sekadar luka lingkungan, melainkan luka rohani: luka keserakahan, ketidakpedulian, dan kehilangan rasa hormat terhadap anugerah bumi

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOM PRIBADI ROMO LEO MALI
Romo Leo Mali . 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi ini, saya ingin berbicara mengenai luka dari kota ini, yakni masalah sampah. 

Sampah bukan sekadar persoalan kebersihan fisik; ia adalah cermin luka sosial yang terkait dengan cara kita beriman. 

Paus Fransiskus mengingatkan, “Kita tidak dapat menganggap diri mencintai Allah jika kita tidak menjaga ciptaan-Nya” (Laudato Si', no. 89). 

Karena, masalah sampah, terutama sampah plastik, membawa dampak ekologis yang serius. 

Sampah yang tidak terkelola dengan baik terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan manusia dan hewan, menyebabkan kerusakan kesehatan dalam jangka panjang. 

Tumpukan sampah di darat menghambat penyerapan air hujan, meningkatkan risiko banjir, serta mencemari sumber air tanah. 

Di laut, sampah plastik membunuh spesies laut melalui terjebak atau termakan secara tidak sengaja. 

Menurut UNEP (United Nations Environment Programme), lebih dari  11 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahun.

Luka ini bukan sekadar luka lingkungan, melainkan luka rohani: luka keserakahan, ketidakpedulian, dan kehilangan rasa hormat terhadap anugerah bumi. 

Melihatnya bukan hanya sebagai masalah teknis, tetapi sebagai krisis moral dan spiritual, membuka jalan bagi pertobatan ekologis sejati: sebuah panggilan untuk mengubah gaya hidup dan memperlakukan bumi ini dengan kasih yang penuh tanggung jawab (Laudato Si', no. 219).

Dalam bacaan pertama (Kis. 5:12-16), para rasul menjadi saluran penyembuhan di tengah masyarakat. 

Penyembuhan itu bukan datang dari kehebatan mereka, melainkan dari keberanian mereka hadir di tengah luka umat. Seperti bayangan Petrus yang menyentuh orang sakit, kita dipanggil untuk membiarkan “bayangan belas kasih” kita menyentuh luka kota ini —termasuk luka lingkungan hidup kita. 

Dalam penglihatan Yohanes di Patmos (Why. 1:9-11a.12-13.17-19), Kristus yang bangkit berkata, “Jangan takut.”

Pesan ini menemukan gema dalam seruan Paus Fransiskus, “Misi evangelisasi kita adalah untuk mengalahkan rasa takut dan menyadari bahwa Kristus mendahului kita dalam setiap misi, mengiringi dan menopang kita” (Evangelii Gaudium, no. 23). 

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved