Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini - Bangkit Bersama Kristus: Gereja dan Panggilan Kasih Membangun Ekonomi Umat NTT

Provinsi Nusa Tenggara Timur tergolong sebagai daerah yang masih menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan kemiskinan. 

|
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
FRANSISKUS DORA - Asisten Analis Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif dan Ekonomi Syariah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Fransiskus Dora. 

Oleh: Fransiskus Dora
(Asisten Analis Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif dan Ekonomi Syariah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT)

POS-KUPANG.COM - Provinsi Nusa Tenggara Timur tergolong sebagai daerah yang masih menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan kemiskinan. 

Hasil kajian Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT bekerja sama dengan LPEM UI pada September2021, melalui studi berjudul “Analysis of Poverty Profiles and Determinants in NTT Province", mengungkapkan kenyataan yang menggugah hati, bahwa kemiskinan di NTT tidak hanya mencakup dimensi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek mendasar kehidupan manusia yaitu Pendidikan, Kesehatan, dan Standar Hidup Layak. 

Dalam hal Pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk miskin di NTT hanya mencapai 7,63 tahun, yang setara dengan tingkat pendidikan SD-SMP, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 8,48 tahun.

Angka Partisipasi Murni (APM) untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) di NTT hanya 54,09 persen, sedangkan rata-rata nasional adalah 61,25 persen. 

Di sektor Kesehatan, sekitar 60,46 persen dari penduduk miskin di NTT memiliki asuransi kesehatan, namun masih banyak yang belum terlindungi oleh sistem asuransi Kesehatan.

Selain itu, hanya 58,41 persen rumah tangga di NTT yang memiliki akses ke sanitasi layak, lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 71,5 persen.

Untuk Standar Hidup Layak, 60,46 persen rumah tangga di NTT memiliki akses perumahan layak, sementara rata-rata nasional mencapai 80,1 persen, dan 77,33 persen rumah tangga di NTT memiliki akses listrik, yang masih lebih rendah dibandingkan dengan angka nasional sebesar 97,8 persen.

Ketertinggalan ini bahkan masih jauh jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang sebesar 9,71 persen pada September 2021 untuk tingkat kemiskinan, yang menunjukkan bahwa NTT memiliki tingkat kemiskinan yang hampir dua kali lipat lebih tinggi, yaitu 20,44 persen pada waktu yang sama

Sebagai provinsi yang masih menghadapi realitas kemiskinan, NTT terus mengandalkan kekuatan spiritual dan kepercayaan akan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah Pembangunan.

Bukan tanpa alasan jika frasa yang berkembang mengenai “NTT: Nanti Tuhan Tolong” begitu melekat di hati masyarakat. Ungkapan ini bisa jadi merupakan cerminan masyarakat akan harapan sekaligus ketabahan dalam penantian panjang untuk perubahan NTT yang lebih baik.

Data demografi pemeluk agama di Provinsi NTT juga turut memberikan perspektif yang mungkin dapat menyentuh nurani iman kita, dimana dari total 5,6 juta penduduk NTT pada tahun 2024, sekitar 5 juta jiwa diantaranya adalah umat Kristiani.

Dan dari total 1,14 juta jiwa penduduk NTT yang hidup dalam kemiskinan, sebagain besar adalah warga Gereja umat Allah. Di sisi lain, kondisi ekonomi NTT sangat dipengaruhi oleh ketergantungan pada sektor pertanian, dimana 49,6 persen penduduk miskin NTT berprofesi sebagai petani.

Namun sebenarnya, sektor inilah yang justru menawarkan peluang besar untuk penanggulangan kemiskinan jika dikelola dengan baik. Angka kemiskinan ini bukan sekadar statistik, tetapi menjadi cermin sekaligus panggilan iman.

Jika kelompok ini dianggap sebagai bagian dari mata rantai yang paling lemah, maka merekalah yang justru harus menjadi pusat perhatian dalam semangat persekutuan “putting the last first”,sebagaimana teladan kasih Kristus mengajarkan untuk menjangkau yang kecil, terpinggirkan, dan terlupakan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved