Breaking News
Senin, 20 April 2026

Opini

Opini: Membasuh Kaki, Caritas et Servitus

Orang yang membasuh kaki adalah seorang hamba, seorang yang kedudukannya paling rendah di dalam masyarakat.

Editor: Dion DB Putra
DOK POS-KUPANG.COM
BASUH KAKI NAPI - Paus Fransiskus membasuh kaki para narapidana muda di sebuah penjara di Roma, Kamis 6 April 2023. 

Oleh: Fr. Stefan Bandar
Tinggal di Manila Filipina

POS-KUPANG.COM - Salah satu event Tri Hari Suci di dalam gereja Katolik adalah hari Kamis Putih

Kamis Putih merupakan perayaan awal Tri Hari Suci yang mengenang perjamuan terakhir Yesus bersama murid-muridNya sebelum Ia menderita. 

Setelah merayakan Minggu Palma, perayaan yang mengenang Yesus masuk Kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai dan disambut meriah  orang banyak dengan melambaikan daun palma, umat Katolik merayakan perjamuan terakhir Yesus bersama para muridNya.

Kamis putih juga mengenang kisah Yesus yang membasuh kaki para muridNya. Yesus yang adalah Allah, Yang Maha Tinggi, rela membasuh kaki para muridNya yang mana mereka adalah rakyat biasa, bahkan penjala ikan. 

Ia menjadikan diriNya hamba (sebab dalam konteks budaya masyarakat Yahudi, pekerjaan membasuh kaki dilakukan hamba kepada tuannya) untuk para muridNya.

Hal lain yang dikenang pada perayaan ini adalah Yesus memberikan tubuhNya dalam rupa roti untuk disantap, dan darahNya dalam rupa anggur untuk diminum. Ia merayakan misa pertama bersama para muridNya. 

Ia meminta para muridNya untuk melakukan hal serupa sebagai kenangan akan diriNya. Tentunya permintaan ini dilatarbelakangi oleh penderitaan, kematian, dan kebangkitan yang akan dilaluiNya.

Konteks Injil dari kisah Kamis Putih adalah Yohanes 13:1-13. Di dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus membasuh kaki para muridNya ketika Ia hendak diserahkan oleh Yudas untuk disiksa, bahkan hingga mati di atas kayu salib. 

Beberapa episode menampilkan saat di mana Ia disangkal oleh Petrus sebanyak tiga kali, dibawa ke hadapan  imam besar Hanas dan Kayafas, hingga dibawa ke Pilatus untuk diadili.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas semua rangkaian peristiwa penting ini, tetapi berfokus pada tindakan pembasuhan kaki para murid oleh Yesus. 

Mengingat konteks Injil Yohanes yang merupakan satu-satunya Injil dengan standar pesan teologis yang tinggi, maka kisah pembasuhan ini mesti diketahui dan direfleksikan lebih mendalam. 

Hal ini penting mengingat kisah ini kaya akan pesan-pesan moral yang relevan dengan kehidupan manusia hingga saat ini.

Salah satu hal yang menarik dari kisah pembasuhan kaki ini adalah ketika Petrus menolak atau tidak mengizinkan Yesus membasuh kakinya. Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya (Yoh 13:8), demikian Petrus menolak Yesus membasuh kakinya. 

Mengapa Petrus menolak kakinya dibasuh oleh Yesus? Hal lazim yang sering terjadi adalah bahwa seorang yang dibasuh kakinya adalah orang yang berkedudukan tinggi seperti para pemuka agama, penatua-penatua, dan  sebagainya.

Orang yang membasuh kaki adalah seorang hamba, seorang yang kedudukannya paling rendah di dalam masyarakat, sebagai bentuk tindakan ketaatan kepada tuannya. Makanya tidaklah lazim jika Yesus yang adalah Guru membasuh kaki Petrus. 

Petrus melihat dan menyadari Yesus adalah seseorang yang kedudukannya paling tinggi. Ia memanggil Yesus dengan sebutan Guru. Maka pantaslah ia menolak Yesus membasuh kakinya sebab ia menyadari bahwa di depan Yesus yang adalah Gurunya, ia tidaklah lebih dari seorang murid. 

Yesus yang adalah Mesias, yang berada di tempat yang paling tinggi, yang
berkedudukan paling tinggi, tidaklah pantas mencuci kaki seorang hamba, apalagi seorang penjala ikan. 

Hal yang paling lazim adalah ia membasuh kaki Yesus, Tuhannya. Namun Yesus mengubah cara pandang para murid, khususnya Petrus. Yesus memperbarui konsep pembasuhan kaki

Yesus menunjukkan bahwa seorang guru haruslah mampu melayani, bahkan dengan cara paling hina. Ia menunjukkan contoh yang sempurna kepada mereka dengan melayani mereka melalui tindakan paling hina yakni membasuh kaki mereka. 

Ia membasuh kaki para murid agar mereka melakukan hal yang serupa kepada orang lain.

Pelayanan adalah tindakan kasih

Pada Kamis 18 April 2019, Paus Fransiskus mengunjungi tahanan Valletri, Roma Selatan. 

Ia merayakan Kamis Putih bersama para tahanan. Hal yang paling mengesankan adalah ketika Sri Paus mencium kaki para tahanan. 

Ia tidak hanya membasuh kaki mereka tetapi juga menciumnya. “Yang terhebat harus melayani yang terkecil. Ia yang merasa paling besar harus melayani,” demikian kata Paus Fransiskus kepada kedua belas rasul dan kepada semua orang yang ikut merayakan Kamis Putih bersamanya saat itu.

Tindakan Paus mencium kaki para tahanan merupakan imitasi sempurna akan peristiwa Yesus membasuh kaki para muridNya. Yesus membasuh kaki para muridNya agar para muridNya melakukan hal yang serupa kepada orang lain. 

Ia merendahkan diriNya menjadi seperti seorang hamba agar para muridNya menjadi hamba bagi orang lain, melayani sesama dengan penuh kasih. 

Kristus memberikan contoh bagi kita untuk mencintai dan melayani sesama dengan tulus, demikian kata St. Theresa dari Calcutta.

Yesus sungguh menunjukkan cintaNya yang begitu besar kepada dunia dalam peristiwa perjamuan terakhir. Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya (Yoh 13:1). 

Yesus ingin menunjukkan kepada para murid betapa Ia mencintai mereka secara penuh, secara menyeluruh. Ia mengasihi mereka tidak setengah-setengah, tetapi sampai pada waktu Ia membawa mereka kepada kemuliaanNya di Yerusalem abadi.

Hal ini Ia tunjukkan dengan membasuh kaki mereka. Yesus melakukan hal yang paling hina dari sebuah tindakan kasih, untuk menunjukkan kasihNya yang begitu besar. 

Ia melayani mereka sebagaimana seorang hamba melayani tuannya. Yang terbesar sesungguhnya adalah bukan dia yang makan tetapi dia yang melayani (Luk 22:27).

Melayani sebagai tindakan mengambil bagian di dalam Yesus harus dipahami bahwa latar belakang kisah pembasuhan kaki adalah kesadaran Yesus akan waktuNya yang telah tiba untuk beralih kepada Bapa (Yoh 13:1). 

Yesus tidak akan tinggal bersama para muridNya lagi sebagaimana pada hari-hari sebelumnya. 

Namun sebelum semuanya terjadi, Yesus ingin melayani muridNya dengan kasih yang menyeluruh sekaligus meminta mereka saling mengasihi.

Pesan yang ingin disampaikan Yesus sekiranya adalah jika Ia mengasihi para murid dengan membasuh kaki mereka, maka para murid juga harus mengasihi sesamanya dengan membasuh kaki mereka. 

Jika Ia menunjukkan kasihNya dengan melayani, maka para murid pun harus mengasihi sesama dengan melayani. Melayani adalah tindakan kasih yang paling sempurna.

Ketika kita saling melayani, maka kita sedang mengambil bagian dan menjadi bagian kasih Kristus. Jika Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian di dalam Aku (Yoh 13:8). 

Hal ini berarti setiap kita melayani orang lain, kita juga sedang mengimitasi Tindakan pelayanan Yesus kepada para muridNya. 

Jika kita membasuh kaki sesama kita, berarti kita telah berada di dalam Yesus, mendapat bagian di dalam Dia.

Ketulusan dalam pelayanan adalah bentuk pewartaan cinta Yesus kepada sesama. Ketika pelayanan itu berdiri di atas dasar ketulusan, maka kita sebenarnya sedang menjadi Alter Christus, menjadi Kristus bagi yang lain. 

Ketika pelayanan itu terjadi atas dasar ketulusan, sebenarnya kita sedang merepresentasikan Kristus, cinta dan kasihNya kepada orang lain.

Yesus sangat menekankan pentingnya melayani. Kasih Yesus yang tidak terbatas memang seringkali diarahkan pada tubuhNya yang disalibkan hingga mati di kayu salib. 

Namun rasa-rasanya sangat sulit untuk ditiru dan diterima jika kita juga harus disalibkan demi menunjukkan cinta atau iman kita kepadaNya. 

Maka dari itu, imitasi tindakan Yesus membasuh kaki para murid merupakan tindakan sederhana tetapi luar biasa untuk menunjukkan kasih dan iman kita kepadaNya. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

Opini: Arsip

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved