Opini
Opini: Waspadai Fenomena Post-Holiday Blues
Efek dari libur panjang Lebaran memiliki dampak signifikan terhadap berbagai sektor, terutama ekonomi dan pariwisata.
Oleh: Wardy Kedy
Peneliti di bidang Psikologi Sosial
POS-KUPANG.COM - Libur Lebaran telah berakhir. Kurang lebih 12 hari, terhitung sejak 28 Maret sampai 7 April 2025 kita menjalani libur panjang.
Ya, betapa tidak, momen ini selalu dinanti-nantikan semua orang, terlebih para pekerja yang hampir tidak ada waktu untuk rehat sejenak.
Efek dari libur panjang Lebaran memiliki dampak signifikan terhadap berbagai sektor, terutama ekonomi dan pariwisata.
Lamanya masa libur ini tidak hanya meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui perencanaan yang matang dan koordinasi antara pemerintah dan pelaku industri pariwisata, momen liburan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menciptakan pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan.
Lebih jauh dari itu, liburan Lebaran yang panjang selalu menjadi momen istimewa yang dinantikan banyak orang.
Setelah liburan panjang yang penuh kebahagiaan, kegembiraan, dan ketenangan, kini kita dihadapkan kembali pada rutinitas harian, baik yang bekerja, maupun bersekolah. Rutinitas ini tak lantas membuat kita merasa lebih baik karena telah menjalani rehat yang sangat panjang.
Segelintir orang merasakan hal lain seperti merasa cemas, tidak bersemangat, jenuh, malas, atau bahkan kesulitan dan tidak ada niat untuk kembali ke rutinitas sehari-hari.
Perasaan negatif yang muncul setelah kembali dari liburan sering kali disebut sebagai post-holiday blues.
Istilah ini merujuk pada perasaan sedih, lesu, malas, tidak bersemangat dan tidak termotivasi yang muncul setelah berakhirnya masa liburan.
Fenomena ini biasanya dipicu kenyataan bahwa kebebasan dan ketenangan yang dinikmati selama liburan harus segera digantikan kewajiban dan rutinitas kerja yang kadang-kadang terasa amat membosankan dan menegangkan.
Fenomena post-holiday blues tidak hanya dialami individu yang baru kembali dari liburan panjang, tetapi juga oleh mereka yang merasa liburan mereka tidak cukup panjang atau menyenangkan.
Dalam banyak kasus, perasaan ini sering disertai kecemasan dan stres, yang bisa mempengaruhi mental dan fisik seseorang.
Meskipun ini adalah pengalaman yang umum, namun hemat saya, penting dipahami apa saja penyebabnya dan cara menghadapinya agar tidak mengganggu aktivitas dan kerja keseharian kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-liburan_20180316_144618.jpg)