Uskup Petrus Turang Wafat
Wartawan juga Butuh Doa
Perkenalanku dengan Petrus Turang bermula dari pengumuman penting di kota suci Vatikan 21 April 1997.
Penulis: Dion DB Putra | Editor: Alfons Nedabang
Saya mesti esktra keras mendapatkannya. Waktu itu belum ada Mbah Google. Jadi semua harus cari secara manual. Di situlah letak keasyikannya.
Puji Tuhan semua bahan yang saya butuhkan tersedia pada waktunya. Maka saya menulis profil Mgr. Petrus Turang sejak masa kecil di Tondano, masa pendidikan di seminari, tahbisan imamat serta pengabdian beliau sebelum diangkat Paus Yohanes Paulus II sebagai uskup.
Petrus Turang yang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974 sempat menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Saya juga menulis makna motto beliau Petransiit Benefaciendo atau Berkeliling Sambil Berbuat Baik (Kisah Para Rasul 10:38), makna lambang keuskupan dan lain-lain yang berkenaan dengan tugas sang gembala kelahiran Tataaran, Tondano Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, 23 Februari 1947 ini.
Bekerja bersama Om Firmus Wangge dalam kepanitiaan menyenangkan. Berlatarbelakang pengusaha, cara berpikir dan bertindak Firmus Wangge jauh dari birokrasi bertele-tele.
Apalagi waktu efektif bagi panitia penahbisan saat itu tidak lama. Hanya kira-kira dua bulan lebih.
Om Firmus selalu memastikan setiap rencana dapat dikerjakan secara baik oleh masing-masing seksi dalam kepanitiaan. Orangnya tegas, bicara blak-blakan seperti Petrus Turang tapi juga mau mendengar setiap saran.
Singkat cerita tiba jua penahbisan Uskup Petrus Turang pada hari Minggu, 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.
Arena pameran tak berbekas lagi. Di lokasi tersebut kini berdiri megah Lippo Plaza dan Rumah Sakit Siloam Kupang. Tak jauh dari situ ada kantor Harian Pos Kupang.
Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ bertindak sebagai Penahbis Utama didampingi Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia yang bergelar Uskup Agung Tituler Bellicastrum, Mgr. Pietro Sambi dan Uskup Agung Kupang saat itu, Gregorius Monteiro, SVD.
Upacara penahbisan berlangsung hikmat dan meriah. Sukses. Puluhan ribu umat Katolik tumpah ruah mengikutinya secara langsung di Fatululi.
Saya masih ingat kepada siapa ucapan terima kasih pertama yang disampaikan Uskup Petrus Turang, Pr saat memberikan sambutan seusai prosesi penahbisan. Beliau ucapkan terima kasih kepada wartawan!
“Terima kasih wartawan yang telah menulis sangat banyak tentang saya dan keuskupan ini,” kata Uskup Petrus Turang.
Saya yang berdiri meliput dari sisi kanan tribune, merinding. Terharu. Tentu bukan tujuan kami meminta atau mengharapkan ucapan terima kasih.
Menulis adalah tugas dan kewajiban jurnalis. Tapi ketika seorang gembala mengucapkan pada sebuah forum yang luar biasa, sungguh merupakan sesuatu.
Sampai akhir hayatnya, Om Damyan Godho dan Om Firmus Wangge menjalin relasi indah dengan Uskup Mgr. Petrus Turang.
Hubungan ketiganya tidak sekadar antara umat atau tokoh umat dengan sang gembala atau pemimpinnya. Mereka bersahabat. Teman diskusi. Saling berbagi suka dan duka.
Ketika kematian menjemput Om Damy dan Om Firmus, Yang Mulia Bapa Uskup Petrus Turang, orang pertama yang memberi peneguhan bagi keluarga.
Beliau juga yang memimpin misa requiem melepas jenazah kedua sahabatnya menuju tempat peristirahatan terakhir.
“Damy sudah berada di tempat yang lebih baik,” kata Mgr. Petrus Turang ketika memimpin misa pemakaman jenazah Om Damyan Godho di Gereja St Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang, Kamis 31 Januari 2019.
Kata peneguhan dan penghiburan senada beliau sampaikan ketika memimpin misa requiem saat pemakaman jenazah Om Firmus Wangge di Gereja Katedral Kupang, Minggu 9 Februari 2020.
Terus terang saya respek pada beliau bertiga dalam hal membangun relasi.
Mereka saling berbagi dan menopang dalam setiap gerak langkah bagi pembangunan daerah, masyarakat luas, untuk Gereja dan Tanah Air.
Tatkala Om Damyan Godho dipercayakan Uskup Turang menjadi Ketua Panitia Pembangunaan Taman Ziarah Yesus Maria di Belo, Kabupaten Kupang, saya tidak kaget dan heran.
Bapa Uskup tahu betul kepada siapa beliau memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar tersebut.
Bukit tandus dan lerengnya seluas kurang lebih 5 hektare berubah menjadi taman ziarah yang indah setelah dibangun selama 4 tahun.
Menurut Mgr. Petrus Turang, lahan ini merupakan hibah dari seorang umat, Yoseph Soleman kepada Keuskupan Agung Kupang.
Keuskupan lalu berinisiatif membangun tempat ziarah dengan bantuan para dermawan serta swadaya umat.
Pembangunan taman ziarah tersebut yang panitianya dipimpin Om Damyan Godho mulai 1 Oktober 2009. Di taman ini ada 20 titik tempat berdoa dan satu kapel di puncak bukit, Kapel St. Yohanes Paulus II.
Dari halaman kapel itu peziarah akan menikmati pemandangan indah jika mengarahkan mata ke Teluk Kupang serta pegunungan Fatuleu di kejauhan sana.
Pada hari Senin tanggal 25 November 2013, taman ziarah Yesus Maria Belo diresmikan Kardinal dari Vatikan, Mgr. Stanislaw Rylko.
Sampai akhir hayatnya Om Damyan Godho tercatat sebagai pengurus stasi taman ziarah tersebut. Setiap kali berziarah ke sana, saya selalu teringat beliau. Karyanya akan terkenang selalu.
Dalam wujud dan cara yang berbeda, kontribusi Firmus Wangge untuk Gereja dan Tanah Air pun tidaklah kecil.
Dalam suatu forum diskusi kecil, saya melihat bagaimana Firmus Wangge, Damyan Godho dan Uskup Mgr. Petrus Turang bertukar pandangan untuk membangun daerah, membangun Indonesia.
Mereka tak sekadar bergumul dengan masalah tapi memberikan tawaran solusi.
Kesaksian mengenai peran Firmus Wangge itu antara lain diungkapkan Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2008-2018, Drs. Frans Lebu Raya.
"Jasa beliau sangat besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur," kata Frans Lebu Raya, Sabtu (8/2/2020). Frans Lebu Raya pun telah berpulang.
Pria kelahiran Adonara, Kabupaten Flores Timur ini meninggal dunia di Denpasar Bali hari Minggu, 19 Desember 2021.
Mendiang Firmus Wangge dikenal luas sebagai pengusaha dan sesepuh Partai Golkar NTT. Pria kelahiran Ende- Flores tersebut pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT. Firmus juga aktif dalam aneka kegiatan sosial kemasyarakatan.
Demikian sekeping catatan mengenai tiga tokoh yang bersahabat karib, Mgr. Petrus Turang, Damyan Godho, dan Firmus Wangge. Kini mereka sama-sama telah berada di keabadian.
Om Damy…
Om Firmus…
Bapa Uskup Petrus Turang...
Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan.
Kami mengenangmu dengan penuh cinta. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
Uskup Agung Kupang
Keuskupan Agung Kupang
Damyan Godho
Frans Lebu Raya
Firmus Wangge
Dion DB Putra
Wartawan juga Butuh Doa
| Ratusan Umat Menghadiri Misa 40 Hari Mengenang Mgr. Petrus Turang |
|
|---|
| Uskup Larantuka Mengenang Mgr Petrus Turang Pr Sebagai Sosok yang Peduli Pemberdayaan Umat |
|
|---|
| Mgr. Hironimus Pakaenoni Sebut Semasa Hidup Mrg. Petrus Turang Telah Menunjukkan Iman yang Kokoh |
|
|---|
| LIPSUS: Gubernur Melki Menangis, Ribuan Umat Hadiri Pemakaman Uskup Petrus Turang |
|
|---|
| Mgr Antonius Subianto Bunjamin: Kita Kehilangan Orang yang Jasa dan Cintanya Luar Biasa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dion-DB-Putra-dan-Uskup-Mgr-Petrus-Turang.jpg)