Rabu, 3 Juni 2026

Uskup Petrus Turang Wafat

Wartawan juga Butuh Doa

Perkenalanku dengan Petrus Turang bermula dari pengumuman penting di kota suci Vatikan 21 April 1997.

Tayang:
Penulis: Dion DB Putra | Editor: Alfons Nedabang
KOLASE POS-KUPANG.COM
DION DAN TURANG - Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra dan Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Uskup Turang meninggal dunia pada Jumat (4/4/2025). 

Dia mengenal para wartawan dengan baik, menghargai karya mereka. Memberi koreksi dan nasehat.

Apakah beliau suka publikasi? Sama sekali tidak. Petrus Turang bukan gembala umat yang doyan diberitakan media. 

Seturut pengalaman saya, Uskup Petrus Turang baru mau diwawancarai langsung untuk tema tertentu yang dianggapnya penting dan harus beliau sendiri yang menyuarakan. Mgr. Petrus Turang lebih banyak bekerja daripada bicara.

"Mgr. Turang bukan tipe gembala yang mencari sorotan, namun langkahnya senantiasa terasa dalam diam. Ia berjalan jauh untuk menjangkau yang jauh," demikian dosen pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang, RD. Dr. Leo Mali dalam catatannya mengenang almarhum yang dipublikasikan Pos Kupang hari ini.

Menurut Romo Leo Mali, Mgr. Petrus Turang hadir di pelosok, mendengar suara umat kecil, dan merawat harapan mereka yang seringkali dipinggirkan oleh waktu dan sistem. 

Di tanah Nusa Tenggara Timur yang keras dan kerap diwarnai tantangan sosial, ia menjelma seperti sungai tenang yang memberi hidup bagi banyak jiwa.

Sebagai gembala, Mgr. Petrus Turang menunjukkan keseimbangan antara teologi dan pastoral. Ia menghidupi imannya tidak hanya dalam ritus dan rubrik, tetapi terutama dalam kedekatan. 

Meski kadang, sebagai seorang yang sangat cerdas dan berwawasan sangat luas, ia menjadi kurang sabaran di antara kawanannya sendiri. 

Ia memanusiakan jabatan uskup, bukan dengan melemahkan wibawanya, tetapi dengan menjadikannya cermin kasih Kristus yang merangkul. 

"Ia tidak mengejar pengaruh, tapi pengaruhnya menetap dalam kesetiaan panjang umat terhadap bimbingannya."

"Dalam banyak kesempatan, ia tampil sebagai penafsir zaman. Ia mengangkat suara terhadap ketidakadilan sosial (meski kadang dengan cara yang sangat halus), mendukung pendidikan yang bermartabat, dan menyuarakan pentingnya solidaritas lintas iman," demikian Leo Mali. 

***

Perkenalanku dengan Petrus Turang bermula dari pengumuman penting di kota suci Vatikan 21 April 1997.

Pada hari Senin 21 April 1997 (Indonesia merayakan Hari Kartini) - kegembiraan disertai rasa penasaran menyeruak di Kupang serta kota dan desa seantero wilayah Keuskupan Agung Kupang (KAK)  ketika Paus Yohanes Paulus II mengangkat Petrus Turang sebagai uskup koajutor Keuskupan Agung Kupang.

Umat KAK gembira mendapat seorang gembala. Serentak pula merebak rasa ingin tahu mengenai sosok sang gembala yang kala itu berusia 50 tahun karena namanya belum begitu familiar di Nusa Tenggara Timur.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved