Selasa, 2 Juni 2026

Uskup Petrus Turang Wafat

Opini: Terima Kasih Monsinyur

Beliau menyambut kami dengan hangat sambil salaman di pintu masuk ruangan. Kesempatan langka ini membuat kami sedikit kikuk.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOK KAWALI.ORG
Mgr. Petrus Turang 

Di dalam Ekaristi setiap calon imam dan imam membarui panggilannya serta meletakkan seluruh syukur hidupnya pada Allah oleh karena anugerah yang diterima terus-menerus. 

Ekaristi juga mengantar pada ketekunan membaca Kitab Suci yang menginspirasi setiap calon imam dan imam untuk sanggup menjadi terang dan garam di dalam dunia dan kesehariannya. 

Dengan melaksanakan ibadat Brevir, setiap calon imam dan imam mengambil bagian dalam kesatuan bersama seluruh Gereja untuk mendoakan Gereja dan seluruh dunia. 

Inilah kewajiban dasarih setiap calon imam dan imam yang harus dilaksanakan dengan kesadaran penuh dan kegembiraan sejati. 

Pentingnya Hidup Sederhana

Nasihat terakhir dari Bapak Uskup dalam pertemuan kami kala itu dinyatakan secara tidak langsung. 

Bapak Uskup memperhatikan busana kami. Sambil melihat ke arah sepatu kami beliau mengatakan, “Uskup tidak melihat kaus kaki putih”. 

Kami hanya tersenyum. Mgr. Petrus Turang sangat menekankan pentingnya berbusana para calon imam dan imam. Dalam banyak kesempatan, beliau selalu menekankan pentingnya busana yang pantas. 

Busana yang menunjukan kesederhanaan seorang calon imam dan imam. Terutama di dalam perayaan-perayaan liturgi, beliau selalu menekankan agar para calon imam dan imam mengenakan busana sederhana yang pantas terutama berkaitan dengan sepatu. Tepatnya sepatu kulit yang sederhana. 

Tekanan ini wajar dan tidak berlebihan. Sebagai seorang Uskup dengan latar belakang ilmu sosiologi, beliau tentu mengamati dan memahami dengan baik fenomena perkembangan mode busana modis yang bahkan merambah masuk ke dalam gaya hidup calon imam dan imam. 

Sebagaimana orientasi panggilan hidup yang diemban menekankan kesederhanaan, beliau seringkali dalam banyak kesempatan  mengajak para calon imam dan imam untuk berlaku sederhana dimulai dari apa yang dipakai. 

Beliau bahkan telah menunjukkannya terlebih dahulu. Bahkan, belum pernah terlihat beliau menggunakan telepon genggam di depan umum. Inilah kederhanaan yang diteladankannya. 

Tidak saja soal busana, beliau sangat memperhatikan urusan makan-minum terutama pangan lokal untuk menunjang pola dan gaya hidup sehat. 

Beliau kadang-kadang dengan halus dan bercanda menyentil para frater dan romo yang nyaris obesitas. Sungguh sosok bapa yang peduli. 

Setelah sekitar 20 menit mendengarkan nasihat dan beliau, kami berpamitan kembali ke rumah untuk berlibur sambal mempersiapkan diri untuk masuk ke Seminari Tinggi. Beliau mendoakan dan memberi berkat bagi kami. 

Akhirnya setelah 9 tahun berproses, ketika kuncup perjalanan imamat saya baru mulai merekah, persisnya pada pagi hari Jumat, 4 April 2025 pukul 06.20, tiba sebuah pesan singkat di grup WA para imam. Bapak Uskup Mgr. Petrus Turang telah pergi untuk untuk selamanya.   

Terima kasih Bapak Uskup untuk perjumpaan dan nasihat-nasihat yang meneguhkan. Setelah bertahun-tahun nasihat-nasihat itu masih tersimpan kuat di hati saya dan teman-teman. 

Kami akan terus mengingatnya di dalam perjalanan selanjutnya. Bapak Uskup akan selalu berada di hati kami. 

Terima kasih bapak yang murah hati. Uskup yang melahirkan 159 imam diosesan. Uskup yang melahirkan Uskup dalam diri Mgr. Hironimus Pakaenoni

Doa kami semoga Bapak Uskup beristirahat dalam damai dan kerahiman Tuhan. Terima kasih Monsinyur. Pertransiit Benefaciendo sempiternam. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved