El Tari Memorial Cup 2024

Bintang Timur Atambua: Membangun Harapan dari Perbatasan

Jalan inilah yang dipilih Pak Fary Francis dengan mendirikan SSB Bintang Timur di Atambua tanggal 21 November 2014.

Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG.COM/tangkapan layar
EUFORIA PENONTON- Euforia ribuan pendukung Bintang Timur Atambua yang merayakan kemenangan Bintang Timur Atambua usai mengalahkan Persebata Lembata melalui drama adu penalti di babak final dengan skor akhir 4-2 di Stadion Oepoi Kupang, Senin (24/3/2025). 

Isidorus Lilijawa
(Penulis Buku Filsafat Bola)

 

PADA tahun 2014 lalu, Pak Fary Francis mengundang Coach Rahmad Darmawan (RD) ke Kupang. Coach RD melakukan serangkaian kegiatan di Kupang diantaranya coaching clinic bagi para siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di Kupang. Satu hal yang beliau tanyakan kepada coach RD adalah bagaimana atau mulai dari mana mengurai persoalan sepak bola NTT. Coach RD menawarkan untuk mulai dengan membangun Sekolah Sepak Bola (SSB).

 

Mengapa SSB?

SSB adalah wadah untuk menyiapkan para pemain sejak usia dini. SSB itu perannya seperti seminari (tempat persemaian) benih-benih sepak bola. Jika benihnya disemaikan di lahan yang baik dan subur tentu akan menghasilkan buah-buah yang berkualitas. Walau investasinya jangka panjang, namun di SSB pembentukan karakter dan pemben mental mendapat porsi yang besar. Kedisiplinan, kejujuran, loyalitas, kemandirian, daya tahan, sportivahanitas ditempa dan ditanamkan. Di sini kemenangan bukanlah tujuan, namun perubahan perilaku dan perbaikan karakterlah yang utama. SSB adalah sekolah karakter, sekolah kepribadian. Jika sepak bola adalah sebuah bangunan, maka SSB adalah fondasinya. Bila fondasi kuat, maka ia akan menopang bangunan dengan gagah. Apabila fondasinya lemah, kapan saja bangunan itu bisa ambruk.

Jalan inilah yang dipilih Pak Fary Francis dengan mendirikan SSB Bintang Timur di Atambua tanggal 21 November 2014. Setelah SSB ini hadir berbagai fasilitas pun dibangun seperti lapangan sepak bola, asrama dan mess bagi para siswa bahkan memicu lahirnya klub senior yang siap berkomptisi dalam berbagai turnamen. Inilah jalan panjang yang dipilih, karena SSB adalah investasi jangka panjang. Bukan investasi material, tetapi investasi sumber daya manusia.

Memilih jalan SSB adalah berikhtiar membereskan persoalan sepak bola NTT mulai dari akarnya, dari dasarnya. Bagai multiplayer effect, kehadiran SSB Bintang Timur dapat memotivasi orang-orang yang berkehendak baik untuk turut juga melakukan hal yang sama. 
 

Mengapa Bintang Timur?

Nomen est omen. Nama adalah tanda. Demikian keyakinan orang-orang Latin. Nama menandakan sesuatu; mewakilkan makna tertentu. Mustahil nama tanpa makna. Mengapa SSB ini dinamakan “Bintang Timur?”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, Bintang Timur diartikan sebagai: Planet Venus yang biasa kelihatan besar dan terang di sebelah timur pada dini hari; dan ikatakan tentang mata yang bagus (besar dan bercahaya). 

Nama Bintang Timur secara sosiologis mencerminkan suatu tanda yang datang dari timur. Tanda itu berupa bintang. Secara sosio-antropologis, pemetaan identitas seseorang bisa berdasarkan arah mata angin: timur, barat, utara, selatan. Bintang Timur adalah identitas yang dilekatkan pada orang-orang yang berasal dari timur Indonesia, dari timur NTT, dalam konteks NTT daerah Atambua Kabupaten Belu yang merupakan wilayah timur NTT. Dalam konteks ini, orang-orang dari timur ini adalah mereka yang lebih dekat dan lebih cepat merasakan kehadiran sang mentari ketika ia mulai memancarkan cahayanya. Identitas timur dalam hal ini menegaskan makna yang lebih cepat, lebih dekat dengan sumber energi, sumber yang menguatkan dan menyegarkan.

Secara teologis, kisah Bintang Timur berasal dari kisah Tiga raja dari timur yang melihat sebuah bintang yang sangat cerah di langit pada suatu malam.Bintang itu kemudian memandu mereka dari daerah asal mereka di Persia sampai ke Betlehem, tempat Yesus dilahirkan.Bintang Timur adalah "bintang" yang telah menuntun orang Majus datang kepada Yesus, saat kelahiranNya di Betlehem.Ada "cerita" mengapa orang Majus mencari seorang bayi yang lahir, ketika melihat "Bintang Timur".

Orang Majus sudah sejak "lama" memiliki pengetahuan tentang perbintangan. Mereka sudah mengenal astrologi. Ceritanya, rasi bintang Aries itu melambangkan “kekuasaan”. Ketika Yesus lahir, (sekitar tahun 6 sebelum Masehi), Planet Jupiter dan Saturnus tepat "masuk" di rasi bintang Aries. Dari kejadian alam itulah orang Majus meyakini bahwa itu adalah simbol lahirnya seorang "calon penguasa". Karena itulah orang Majus datang mencari bayi yang lahir, "tepat di bawah Bintang Timur" itu. Cerita ini tidak ditulis dalam Alkitab, sebab ini adalah hasil "analisis" para ilmuwan.

Diyakini bahwa Bintang Timur itu melambangkan Yesus (orang Jawa menyebut Yesus Kristus itu sebagai SANG TIMUR). Dari cerita tentang "Bintang Timur" yang menuntun orang Majus menemukan bayi Yesus, maka logis jika Yesus dilambangkan sebagai Bintang Timur. Secara teologis, bintang timur adalah penunjuk arah, tanda yang menyelamatkan dan Dia yang datang untuk menyelamatkan umat manusia.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved