Senin, 13 April 2026

Opini

Opini: Bahasa Rajong, Meneropong Warisan Linguistik NTT

Menurut Ethnologue-Languages of the World, bahasa ini dikategorikan sebagai bahasa asli Indonesia yang stabil dengan kode Rjg dalam rumpun Austronesia

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Gregorius Nggadung 

Oleh: Gregorius Nggadung
Alumni Program Studi Ilmu Linguistik Undana Kupang

POS-KUPANG.COM -  Bahasa Rajong yang digunakan sekelompok masyarakat di Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)  menempati posisi unik dalam lanskap linguistik Indonesia. 

Menurut Ethnologue-Languages of the World, bahasa ini dikategorikan sebagai bahasa asli Indonesia yang stabil dengan kode Rjg dalam rumpun Austronesia

Status stabil ini menarik, mengingat bahasa ini tidak diajarkan dalam sistem pendidikan formal. Nmun, tetap bertahan sebagai bahasa pertama bagi kelompok etnis penggunanya.

Klasifikasi Verheijen dalam Glottolog, dengan kode rajong1237 dan menempatkan bahasa ini dalam rumpun Austronesia Bima-Sumba, memberikan pemahaman lebih dalam tentang posisi genealogis bahasa Rajong

Penempatan dalam subrumpun Bima-Sumba ini menunjukkan keterkaitan historis dan linguistik dengan bahasa-bahasa lain di wilayah tersebut, meskipun bahasa Rajong memiliki karakteristik yang membedakannya dari bahasa Manggarai di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menarik keberadaan bahasa Rajong masih bertahan sebagai bahasa pertama dalam komunikasi sehari-hari masyarakat Nunur di berbagai aspek kehidupan, mulai dari kegiatan keagamaan hingga ritual budaya. 

Ini menunjukkan bahwa bahasa tersebut masih memiliki vitalitas dan relevansi kuat dalam kehidupan masyarakat penggunanya.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kurangnya dokumentasi formal dan penelitian komprehensif tentang bahasa ini membuat  banyak aspeknya belum terpetakan dengan baik. 

Kedua, adanya indikasi penggunaan bahasa Rajong di wilayah Kabupaten Ngada, Flores, yang belum terverifikasi menunjukkan perlunya penelitian (Linguistik Historis Komparatif) lebih lanjut untuk memahami persebaran dan variasi bahasa ini.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa upaya dokumentasi dan pelestarian yang sistematis, bahasa Rajong bisa terancam punah seiring waktu. 

Apalagi dengan tekanan dari bahasa-bahasa lain di sekitarnya yang lebih dominan, seperti bahasa Waerana (wrx), Bahasa Rongga (ror), bahasa Manus, bahasa Kepo (kuk), dan bahasa Manggarai (mqy).

Analisis Linguistik

Bidang Ilmu Linguistik sebagai institusi akademik yang fokus pada aspek linguistik, memiliki posisi strategis untuk memimpin upaya pelestarian ini. 

Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut. Pertama, melakukan dokumentasi komprehensif bahasa Rajong, termasuk sistem fonologi, morfologi, dan sintaksisnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved