Opini
Opini: Belis dan Diplomasi Lunak
Tulisan ini lebih fokus membahas tentang belis. Pertanyaan di baliknya, apakah belis merupakan harga mati yang menutup aneka kemungkinan diplomasi?
Meminjam istilah Carl Gustaf Jung (1875-1961), seorang ahli psikologi-analisa, hasil tafsiran itu pun masih bersifat samar atau tersembunyi.
Itu berarti dibutuhkan keterbukaan untuk menyibak arti sesuai dengan persepsi lawan.
Karena merupkan tafsiran maka deadlock atau jalan buntu bisa menjadi momen krusial dalam dialog.
Namun seperti yang terjadi di meja adat, kadang kedua pihak harus mengambil waktu untuk bisa berdiskusi di kelompok masing-masing.
Hal itu nyata dilakukan dalam diplomasi adat dan barangkali itu pula yang ditiru dalam diplomasi antarnegara.
Dalam konteks ini maka penetapan standar dan ukuran belis tidak pernah menjadi harga mati.
Hal ini membutuhkan kesabaran, kematangan, dan kebijaksanaan untuk melewati momen diplomasi dengan baik.
Meminjam kata-kata Paul Ricouer (1913-2005), hidup itu sendiri adalah interpretasi, dan terdapat berbagai multi lapisan yang harus secara sabar disibak satu per satu.
Kesabaran seperti ini yang kadang tidak dimiliki sehingga orang mencari jalan pintas seperti bunuh diri, hal mana tidak patut dicontohi.
Kedua, belis menjadi tanda keseriusan. Perkawinan adalah perjanjian hidup sehidup-semati karena itu ia hanya bisa dilalui dengan penuh keseriusan.
Hal itu ditandai dari komitmen hidup yang telah direalisasikan oleh calon pengantin (pria) dalam hidupnya.
Ia (diharapkan) telah serius menjalani hidup secara konsekuen dan hal itu menjadi pijakan kepercayaan keluarga wanita untuk mempercayakan anak gadisnya kepadanya.
Komitmen dan keseriusan hidup itulah yang kemudian dinarasikan secara tulus. Yang terjadi kerap di luar harapan.
Irrfan Khan (1967-2020) seorang aktor India, yang sukses di Hollywood melalui film Slumdog Millionaire tahun 2008, memberikan pesan yang sangat mengena.
Pemeran polisi pada film yang oleh sang sutradara Danny Boyle sangat cerdas menggunakan instingnya untuk menemukan pusat moral di berbagai karakter, mengatakan: Anda tidak dapat mengurangi kekuatan cerita dengan label uang karena itu bukan pasar saham. Jadi Anda harus tahu keseriusan kekuatan bercerita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bala-Robert.jpg)