Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Opini: Belis dan Diplomasi Lunak 

Tulisan ini lebih fokus membahas tentang belis. Pertanyaan di baliknya, apakah belis merupakan harga mati yang menutup aneka kemungkinan diplomasi? 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Robert Bala. 

Meski ada perbedaan dari skop karena diplomasi lebih dikaitkan dengan dialog antar negara, tetapi dasarnya telah memenuhi persyaratan esensial. 

Diplomasi antarnegara misalnya lebih merupakan praktik untuk menjalankan urusan negara, kelompok, atau individu melalui dialog dan negosiasi. 

Diplomasi bertujuan untuk melindungi kepentingan, memajukan hubungan, dan menciptakan perdamaian. 

Sementara itu diplomasi di meja adat memiliki jangkauan  yang lebih kecil di mana masing-masing kubu minimal telah memiliki pengenalan satu sama lain. 

Di sini tedapat titik temu. Mengutip The National Museum of American Diplomacy, diplomasi diartikan sebagai seni dan praktik membangun dan memelihara hubungan dan melakukan negosiasi dengan orang-orang dengan menggunakan kebijaksanaan dan saling menghormati. 

Dalam arti ini maka diskusi penetapan belis berada dalam ruang diplomasi di mana dua kubu bertemu dan saling memaparkan kepentingannya dengan harapannya masing-masing. 

Berpijak dalam pengertian ini maka baik diplomasi antar negara maupun meja diplomasi belis memiliki tujuan yang sama untuk mencapai konsensus. 

Itu berarti masing-masing pihak datang dengan harapannya yang kemudian bisa dikomunikasikan untuk mencapai konsensus atau kesepakatan. 

Dalam konteks ini maka tidak ada harga mati. Semua pihak datang dengan keterbukaan. 

Pada sisi lain masing-masing kubu pun tahu bahwa dalam kehidupan sosial, seseorang tidak saja selamanya menjadi pihak perempuan. 

Ia akan beralih peran menjadi pihak laki-laki saat kaum prianya ingin menikah dengan gadis lain yang masih berada dalam lingkungan yang sama. 

Dengan demikian keterbukaan, fleksibilitas, dialog, saling pengertian (mestinya) sangat dijunjung tinggi. 

Simbol Keseriusan 

Pemahaman tentang belis ini tentu saja mendorong kita untuk bertanya, masih perlukah dipertahankan penerapan belis

Pertama, belis menjadi penting karena di baliknya ada kekuatan simbol. Itu berarti materi (uang atau barang) merupakan wujud yang diserap secara indrawi yang merupakan hasil tafsiran atas nilai. 

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved